🐎 Pengalaman Tinggal Di India

Adabeberapa hal unik yang saya temui dan rasakan selama kuliah di India, misalnya biaya kuliah yang murah. Biaya kuliah di universitas saya tergolong sangat terjangkau untuk masyarakat India. Menurut orang India, tes masuk ke JNU sangat sulit, sehingga mahasiswa yang lulus di JNU sangat dikagumi. Saya baru berkesempatan ke India beberapa kali. Tapi, dari sekian kunjungan itu, dapat dibilang hampir semua wilayah utama di India –Utara, Tengah dan Selatan, sudah terjelajahi. Tahun 2015, saya berkesempatan ke kawasan Kashmir di Utara dan sebagian kawasan Rajashtan di India Tengah. Setahun berselang, giliran kawasan Kerala di Selatan India yang saya eksplor selama 2 minggu. Bahkan, awal tahun 2020 ini saya berkesempatan kembali ke Kerala bersama beberapa orang kawan baru. Keindahan senja di Pantai Kovalam Walaupun di Kerala tidak banyak bangunan megah yang bersejarah layaknya benteng atau kuil-kuil besar, namun Kerala terkenal dengan keindahan alamnya. Sekilas memang sama dengan Indonesia, namun gaya hidup masyarakat di sana yang masih bergantung dengan alam patut dijadikan contoh. Selaras dengan Alam ala Masyarakat Kerala Kerala sendiri berasal dari bahasa Malayalam dan merupakan gabungan dari dua kata yakni “Kera” yang berarti “Pohon Kelapa” dan alam atau “Land” sehingga Kerala dapat diartikan “Land of Coconuts” atau “Tanah Kelapa”. Saat ke sana, memang pohon kelapa dengan mudah akan dijumpai. Jika di Indonesia pohon Kelapa identik dengan kawasan pantai, di Kerala, hampir semua tempat ada pohon kelapanya. Baik itu di pinggir sungai, danau atau juga di kawasan perkotaan. Human by Nature Aktifitas masyarakat di Allepey Keindahan Pantai Kovalam Kebun teh di Munnar, Kerala Salah satu pengalaman berkesan saya selama di Kerala yakni saat menginap di Kettuvallam, sebuah rumah perahu yang menjadi ciri khas kota Alleppey di mana wisatawan akan diajak menyusuri Sungai Pampa dan melihat kehidupan masyarakat sekitar. Hasil perkebunan di Kerala Proses pembuatan Toddy Petani lokal Di pinggir sungai Pampa, masyarakat masih hidup dengan cara tradisional. Mereka masih menangkap ikan dengan menggunakan jala dan pancing. Di sebuah desa kecil tak jauh dari sana, saya juga pernah melihat masih ada warga yang membuat atap dari daun kelapa dan memintal tali dari serat batok kelapa. Selaras bersama Alam di Kerala Membuat atap dari daun kelapa Pembuatan tali dari ijuk kelapa Proses pemintalan tali ijuknya Lucunya, berbeda dengan Indonesia, warga lokal menciptakan alat khusus yang digunakan untuk memanjat pohon kelapa. Dari air-air kelapa inilah kemudian mereka membuat toddy palm wine, minuman berfermentasi dari air kelapa. Menurut teman-teman saya yang mencicipi sih enak. Tapi, saya pribadi tidak cocok minum minuman yang baunya cukup menyengat ini. Saat saya mengunjungi pantai di sekitaran Trivandrum, ibu kota Kerala, saya juga melihat para nelayan masih menggunakan perahu tradisional. Di sisi lain pantai di kota Kochi, jala-jala berukuran raksasa digunakan masyarakat untuk mencari ikan. Selaras bersama Alam di Kerala Penjual kelapa di Kerala Alat menangkap ikan di Kerala Sadhya, makanan khas Kerala Saya nggak bilang masyarakat Kerala tidak bersentuhan dengan moderenitas, tapi, sepanjang penglihatan saya, mereka masih menjunjung tinggi alam yakni dengan cara hidup berdampingan dan memanfaatkan sebaik-baiknya tanpa harus merusak. Di kesempatan lain, saya pernah juga menginap di kawasan perkemahan di kaki Gunung Phantom di Munnar. Luar biasa pengalaman “menyatu” dengan alam yang terus terang belum pernah saya rasakan di negeri sendiri. Baru kali itu saya tidur menggunakan tenda di hutan dengan suara-suara serangga yang bikin tidur semakin nyenyak. Selaras dengan Alam di Kerala Keindahan hutan di Kerala Perkemahan di kaki gunung Phantom Alat menangkap ikan di Kerala Kerala adalah rumah bagi beberapa taman nasional. Saya beruntung dapat mendatangi salah satunya, yakni Taman Nasional Periyar seluas 925 km persegi yang jika saya tidak melihat langsung keasrian taman nasional ini, saya nggak akan nyangka jika ini adalah taman nasional buatan! Seni dan Agama yang Berpadu di Kerala Sebelum saya singgung soal seni dan agama yang berpadu dengan baik di Kerala, coba lihat video di bawah ini. Video dengan judul Human by Nature ini menunjukkan keharmonisan masyarakat Kerala dengan alam termasuk juga dengan seni, budaya dan agama yang ada di sana. India memang dikenal sebagai negara dengan pemeluk agama yang beragam. Ada Hindu, Buddha, Kristen dan Islam. Di Kerala pun masyarakatnya heterogen dan semua hidup damai berdampingan. Bagi umat Islam seperti saya, tidak sulit untuk menemukan masjid di sana. Pun umar Kristen yang juga jadi agama minoritas, untuk menemukan gereja juga mudah. Salah satu gereja indah yang pernah saya jumpai itu bernama Matummala Matha atau Our Lady of Good Health Church yang berada di tengah perkebunan teh. Indah sekali! Tak jauh dari sana kami juga sempat mampir ke Kalvary Mount/Kalliyanathandu yang merupakan situs ziarah yang berada di perbukitan dan menawarkan pemandangan indah Waduk Idduki. Keindahan Gereja Matummala Matha Kalau ini pemandangan di sekitaran Kalvary Mount Bahkan, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, di Kochi, saya berkesempatan untuk berkunjung ke kanisah yang merupakan rumah peribadatan umat Yahudi walaupun saya gagal masuk karena jam kunjungan sudah berakhir. Sebuah kesenian yang erat kaitannya dengan sisi spritualitas juga ada di Kerala. Kesenian tari itu bernama Kathakali itu juga merupakan drama musikal di mana penarinya akan menggunakan riasan wajah dan kostum yang berwarna-warni. Tarian yang muncul di video klip Coldplay berjudul Hymn For The Weekend ini biasanya menggambarkan cerita klasik Ramayana, Mahabhrata dan berbagai kisah mitologi Hindu. Festival di Sree Kumaramangalam Gajah juga dilibatkan dalam sebuah festival semacam ini Dalam sebuah pertunjukkan, tak jarang mereka juga mengajak hewan. Umumnya sih gajah yang memang banyak terdapat di India. Saya bertemu gajah liar di Taman Nasional Periyar, namun di beberapa kesempatan pertunjukkan, saya kembali menjumpainya, termasuk saat melihat festival di Sree Kumaramangalam dengan segala macam atraksinya. Sebuah keharmonisan yang bikin iri! Dengan adanya harmonisasi dan selarasnya kehidupan masyarakat Kerala dengan alam sekitar, tak heran jika perjalanan ke Kerala selau meninggalkan kesan yang dalam. Dan, tentu saja ada rasa rindu untuk kembali lagi ke sana di masa yang akan datang. Ada yang mau ke Kerala bersama saya? Yuk! Harmonisasi kehidupan masyarakat dengan alam Artikel ini disponsori oleh Kerala Tourism. Untuk informasi lengkap mengenai Kerala dapat dilihat di KERALA TOURISM Situs Instagram keralatourism Facebook Kerala Tourism Twitter Keralatourism Youtube Kerala Tourism
LittleIndia merupakan salah satu kawasan di Singapura yang kaya akan budaya dan sejarah. Destinasi ini juga ramah muslim lho. Berlokasi di sepanjang Serangoon Road dan Race Course Road, tempat ini sudah menjadi tempat tinggal komunitas India sejak lama. Stasiun MRT, hub masyarakat dan wisatawan di distrik ini pun bernama Stasiun Little India.
India merupakan salah satu Negara di Asia yang sampai saat ini masih memiliki sejumlah istana kerajaan yang masih terawat. Beberapa dari istana tersebut telah menjelma menjadi museum, hotel dan bahkan masih ada yang masih ditinggali oleh keturunan bangsawan. Nah, buat kalian yang ingin berkunjung ke istana tersebut dan merasakan menjadi bangsawan dalam sehari,Istana di India berikut ini bisa menjadi Tempat Wisata menyenangkan1. City Palace, Jaipur2. Rambagh Palace, Jaipur3. City Palace, Udaipur4. Lake Palace, Udaipur5. Umaid Bhawan Palace, Jodhpur6. Mysore Palace, Mysore7. Lakshmi Vilas Palace, Vadodara8. Jai Vilas Palace, Gwalior9. Falaknuma Palace, Hyderabad10. Chowmahalla Palace, HyderabadIstana di India berikut ini bisa menjadi Tempat Wisata menyenangkan1. City Palace, Palace merupakan salah satu istana di India yang cukup banyak menarik perhatian wisatawan dari berbagai Negara. Istana yang berada di kota Jaipur, Rajashtan ini ini telah ada sejak tahun istana ini menjadi tempat tinggal pribadi Maharaja Sawai Jai Singh II dari Jaipur. Bangunan dari istana ini sendiri merupakan perpaduan dari gaya arsitektur Rajput, Mughal dan Eropa. Di dalam istana ini terdapat pavilion, kuil dan juga kebun dan salah satu bagian paling menarik dalam istana ini adalah pintu masuknya yang didesain seperti ekor burung City Trip Mengunjungi Patwon Ki Haveli Yang Unik Nan MenawanIndia Gate, Landmark Kota New Delhi Yang Penuh Sejarah2. Rambagh Palace, di India selanjutnya juga masih berada di kota Jaipur, Rajashtan, yaitu Rambagh Palace. Rambagh Palace ini diangun pada abad ke-19 dan dulunya berfungsi sebagai tempat peristirahatan setelah berburu di masa pemerintahan Maharaja ini memiliki banyak ruangan yang indah dan artistic dan kebun yang indah serta koridor yang dipenuhi perabotan marmer. Sekarang Rambagh Palace telah menjadi hotel mewah yang tarifnya mencapai puluhan juta per malamnya. Tentunya harga tersebut sebanding dengan service, fasilitas dan pengalaman yang akan kamu dapatkan. Menginap di Rambagh Palace ini tentu akan membuatmu seolah menjadi keluarga City Palace, hanya Jaipur, Udaipur juga memiliki istana yang tak kalah megah bernama City Palace. City Palace Udaipur ini dibangun pada abad ke-16 dan berlokasi diatas tebing dengan pemandangan yang sangat indah, yaitu Danau Pichola dan Pegunungan Aravalli. Tak heran jika City Palace ini menjadi salah satu istana di India yang banyak diminati wisatawan dari berbagai Palace Udaipur ini mengusung gaya bangunan perpaduan dari Mughal dan Rajashtani yang mana dulunya menjadi tempat tinggal keluarga Dinasti Mewar. Di dalamnya kamu akan menemukan istana-istana kecil, kuil, infinity pool dan danau. Interior dari istana ini pun ngga kalah menarik karena dilengkapi dengan lukisan dinding, perabotan marmer, cermin-cermin hingga kerajinan Lake Palace, di India selanjutnya masih berada di Udaipur, Rajashtan, yaitu Lake Palace. Lake Palace ini bisa dibilang cukup unik karena dibangun di tengah Danau Pichola yang Palace ini dibangun pada abad ke-18 atas perintah Maharaja Jagat Singh II. Dulunya istana ini berfungsi sebagai istana musim dingin Dinasti Mewar. Meskipun berada ditengah danau, namun istana ini memiliki ragam fasilitas mewah selayaknya istana pada umumnya. Di dalamnya terdapat air mancur, kebun dan halaman yang sangat ini Lake Palace ini berubah menjadi sebuah hotel mewah yang memiliki 83 kamar dan suites. Jika kamu tertarik untuk menginap disini, tentu kamu harus mergoh kocek yang agak dalam karena per malamnya dipatok sekitar Rp 13 Umaid Bhawan Palace, Bhawan Palace juga menjadi salah satu istana di India yang layak untuk dikunjungi. Istana yang berada di Jodhpur, Rajashtan ini memiliki luas mencapai 105 meter persegi dengan bangunan bergaya ini dulunya merupakan tempat tinggal Maharaja Gaj Singh yang di dalamnya terdapat museum berisikan mobil klasik, koleksi jam, memorabilia, fotografi hingga macan tutul yang telah diawetkan. Sekarang istana ini telah menjelma menjadi museum dan kamar yang ada didalamnya menjadi Mysore Palace, berbicara soal istana di India yang wajib dikunjungi, rasanya belum lengkap jika tak berkunjung ke Mysore Palace. Mysore Palace ini berada di Negara bagian Karnataka tepatnya di kota ini memiliki gaya arsitektur perpaduan dari Hindu, Muslim, Gotik dan Rajput sehingga terlihat sangat megah dan menakjubkan. Mysore Palace ini dibangun pada tahun 1897 dan memiliki tiga tingkat yang terdiri dari 2 durbar hall atau aula khas istana India, istana, pavilion boneka antic, galeri foto dan 12 kuil Hindu. Istana ini dulunya menjadi tempat tinggal resmi Wodeyar, yaitu keluarga kerajaan Mysore, namun sekarang istana ini dibuka untuk Lakshmi Vilas Palace, di India yang satu ini berada di Gujarat, Negara India bagian barat tepatnya di kota Vadodara. Istana ini dikenal dengan nama Lakshmi Vilas Palace dan dibangun pada tahun 1890 diatas lahan seluas 2 istana ini mengusung gaya Indo-Saracenic, yaitu gaya arsitektur kebangkitan yang didesain oleh arsitek Inggris pada bangunan di India. Di dalam istana ini kamu bisa melihat ruang perjamuan yang sangat megah, museum berisi lukisan dan artefak dari berbagai Istana Lakshmu ini menjadi tempat tinggal Gaekwads, yaitu keluarga kerajaan Vadodara. Sekarang sebagian dari istana ini dibuka untuk umum sebagai museum dan sebagian lainnya menjadi Jai Vilas Palace, Vilas Palace juga menjadi salah satu istana di India yang tak kalah megah untuk kamu kunjungi. Istana yang dibangun pada abad ke-19 ini adalah milik Maharaja Jayajirao dari Gwalior dan berada di Negara bagian Madhya istana ini memiliki luas sekitar 117 ribu meter persebi dengan gaya bangunan ala Eropa. Istana ini terdiri dari tiga tingkat dengan masing-masing gaya arsitektur yang berbeda. Pada lantai satu memiliki gaya Tuscan, lantai dua bergaya Italian-Doric dan di lantai 3 bergaya Corinthian. Selayaknya istana India lainnya, Jai Vilas Palace ini juga memiliki durbar hall yang dilengkapi dengan lampu gantung raksasa, karpet mewah dan perabotan berlapis Falaknuma Palace, di India yang wajib dikunjungi selanjutnya adalah Falaknuma Palace. Istana ini berada di Negara bagian Telagana tepatnya di Hyderabad dan dibangun diatas tebing setinggi 600 Palace dulunya adalah tempat tinggal Nizam dari Hyderabad yang sekarang telah berubah menjadi hotel mewah. Istana ini memiliki interior yang sangat indah dan dilengkapi dengan lampu gantung Venesia, tangga marmer, pilar khas Romawi dan perabotan mewah. Sementara pada bagian luarnya kamu bisa melihat kebun-kebun bergaya Jepang, Mughal dan Rajashtani. Istana ini juga memiliki perpustakaan besar dengan koleksi Al-Quran yang sangat Chowmahalla Palace, di India yang terakhir adalah Chowmahalla Palace. Istana megah ini juga masih berada di Hyderabad, Negara bagian Palace yang berarti benteng ini dulunya juga menjadi tempat tinggal Nizam dari Hyderabad. Istana yang berdiri sejak abad ke-19 ini memiliki 4 bangunan istana yang megah dengan gaya bangunan Neo-Klasik. Di dalam istana ini terdapat koridor luas dengan berbagai macam ruangan, kolam, air mancur dan durbar hall. Segelintirsahajalah, most of them menyokong sahaja kalau belajar di India. Apa yang nak aku cerita tentang India? Pertama: Makanan. Ya, makanan! Semua orang bila sebut tentang makanan, terliur dah. Sejujurnya, ya, India kaya dengan makanan. Korang nak tau tak, berat sebelum ke India, 50 kg, balik dari India, 60 kg. Ha, nampak tak di situ? Anda mungkin tidak tahu bahwa Little India pernah memiliki pacuan kuda, penggembala ternak, dan pembakaran batu bata. Ketika berbagai tempat ini dan para penghuni sebelumnya tidak ada lagi, waktu seolah terhenti di distrik Little India yang bersejarah. Perdagangan masa lalu berdampingan dengan bisnis baru penjual karangan bunga, restoran modern, hotel butik, serta kelompok seni. Pesona masa lalu yang penuh warna Pada tahun 1840-an, alasan utama orang-orang Eropa tinggal di sini adalah untuk pacuan kudanya, tempat mereka bertemu dan berbaur. Ketika perdagangan ternak semakin maju, ini menjadi perdagangan utama sebagian besar orang-orang India, pedagang-pedagang tersebut mempekerjakan pekerja migran India. Barang dan jasa dikirimkan, masjid, dan kuil-kuil Hindu dibangun. Aneka Ragam Budaya Little India saat ini merupakan salah satu distrik paling ramai di Singapura. Saat Anda berjalan menyusuri Serangoon Road dan jalan-jalan sekitarnya, mengeksplorasi kuil-kuil akulturasi Hindu dan Tionghoa, masjid, dan gereja. Isi perut Anda dengan hidangan vegetarian India Selatan, hidangan tandoori India Utara, dan hidangan khas setempat seperti roti prata panekuk bundar dan teh tarik. Cobalah untuk menyaksikan penjual teh susu panas menarik’ minuman tersebut, sungguh satu keahlian tersendiri. Jangan lupa berbelanja. Pusat perbelanjaan Mustafa Centre yang buka 24 jam ini menawarkan segalanya dari barang elektronik hingga bahan makanan, atau pilihlah yang Anda suka di Tekka Centre yang berada di ruangan terbuka, toko emas, dan toko sari. Terletak dekat dengan pusat kota dengan nuansa bohemian, banyak seniman menganggap Little India bagaikan rumah sendiri. Cobalah untuk berkunjung selama Deepavalibiasanya bulan Oktober dan November dan Pongal pertengahan Januari - perayaan yang sangat meriah ini sangat patut untuk Anda saksikan.
Videokali ini menceritakan pengalaman pribadi yang dialami sahabat aku sendiri Nurul Sakinah ketika ada program magang ngajar di India. Video ini menceritak
1. Não pense que você está pronto para Índia Por mais que você leia e pesquise sobre a Índia, nada te prepara para o soco no estômago que é pisar no país pela primeira vez. Sempre que penso sobre minha viagem, não consigo pensar em outros adjetivos que não sejam “intenso”, “esmagador” e “único”. A Índia não se parece com nada que vi antes e foi uma das experiências de vida mais fortes que tive. Se Vinícius de Moraes achava que o Brasil não é para iniciantes, é porque ele não tinha ideia do que se passava na Índia. 2. É um país relativamente seguro, se você não for mulher Apesar da pobreza, não senti medo de assaltos na Índia. Andava tranquilamente com o celular na mão e câmera pendurada no pescoço. Algo que nunca faço quando estou, por exemplo, no Rio de Janeiro. No entanto, se você for mulher, especialmente se viajando sozinha, existe uma sensação de insegurança bem grande. A cultura do país é bem machista, então é melhor tomar alguns cuidados com a escolha da roupa ou mesmo evitar sair à noite. Demos algumas dicas para mulheres viajando sozinhas neste post aqui. 3. Falando em machismo… A ideia de igualdade entre os sexos é algo bem distante na Índia. Se você estiver viajando com um homem vai perceber que as pessoas vão se dirigir apenas a eles, mesmo que você tenha feito uma pergunta. A minha percepção é que os homens de lá não gostam de ser “enfrentados” por mulheres. Em dois hotéis, os gerentes levantaram o tom de voz para mim. O primeiro, por conta de uma confusão com o transfer que não estava me esperando no aeroporto, e o segundo porque ele queria que mudasse meu roteiro de viagem para contratar um transfer do hotel. Quando falaram com um amigo homem sobre os mesmos assuntos, o tom da conversa era bem diferente. 4. Não dá para ignorar a pobreza As ruas da Índia costumam ser bem sujas A Índia fascina pelo exotismo, história e explosão de cores. Mas esta não é uma viagem qualquer e há algo por lá que é tão grandioso quanto tudo isso a pobreza. O país possui milhões de habitantes e, segundo o Banco Mundial, 30% dessas pessoas vivem atualmente abaixo da linha da miséria e sobrevivem com menos de $ por dia. Apenas 40% da população tem acesso à saneamento básico. Na Índia a pobreza é onipresente. Ela cerca inclusive cenários majestosos como o Taj Mahal e os templos, o que só torna o contraste ainda mais impactante. É corriqueiro ver crianças procurando comida no lixo, pessoas dormindo com bichos no meio da estrada e cobertos de poeira. Se você decidiu ir à Índia, não espere conseguir viajar em um bolha e apenas ver o lado bom. Definitivamente, esta é muito mais do que uma viagem de férias, é uma experiência de vida. 5. A limpeza é questionável Eu adoraria dizer que as pessoas exageram quando falam da sujeira na Índia, mas ela é bem suja. Há lixo por praticamente todos os lados e as ruas fedem bastante. A falta de saneamento e a pobreza são a principal causa e também refletem em como os indianos lidam com a limpeza. Digamos que eles possuem um conceito bem elástico de higiene. Eu andava sempre com um álcool em gel na bolsa e evitava comida de rua. Também era muito cismada com a água sempre comprava uma garrafinha e checava se ela estava realmente fechada. Não pedia sucos ou gelo para refrigerante. 6. Cheque a validade dos alimentos Este é um hábito que eu particularmente não tenho, a não ser que esteja no supermercado. Mas a Índia não é exatamente rigorosa com a questão da validade. Na estrada, comprei um pacote de batata frita que havia vencido em outubro de 2016, cinco meses antes da viagem. Depois disso notei vários produtos fora do prazo nas prateleiras, principalmente em restaurantes de estrada. 7. Não jogue comida fora As porções de comida nos restaurantes indianos são generosas e um prato geralmente serve duas pessoas tranquilamente. Como muitas vezes sobrava comida, pedia para o garçom embrulhar e dava para alguém na rua. Falando em doações, levei algumas roupas para doar, mas apenas os sapatos foram bem recebidos, pois minhas peças eram muito ocidentais. Se eu tiver a chance de voltar à Índia, certamente levaria calçados que não uso mais. 8. Existe praticamente um deus por pessoa Imagem de Ganesh, um dos principais deuses hindus, em Varanasi Ok, o título do tópico é um pouco sensacionalista. Oficialmente a Índia possui “apenas” 330 milhões de deuses. Mas há quem diga que, se colocarem os deuses sem registro na conta, o número chega a um bilhão. Sim, a Índia possui um “IBGE” especializado em deuses. Fica no templo de Bhuvaneshwari, onde os monges mapeiam a origem, parentesco e a especialidade de cada um deles. 9. O trânsito é insano, mas eles se entendem O trânsito da Índia é conhecido com um dos piores do mundo A minha primeira impressão da Índia foi que ele é um país barulhento. Peguei um táxi às 6h da matina e o som das buzinas já era incessantes nas ruas. Eles dirigem com a mão colada ali, só pode. Mas, surpreendente, não há xingamentos ou brigas. Nas ruas da Índia é comum que tudo esteja junto e misturado carros, motos, tuk-tuks, vacas, pessoas, dividem o mesmo espaço sem maiores problemas. As estradas, ao contrário do que esperava, são boas. Todos os carros possuem arranhões e eles são os reis de “tirar um fino”, praticamente todos os taxistas e tuk-tuks que peguei quase bateram. Quase. Definitivamente não é um lugar que aconselho alugar um carro. Ah, mas fiz parte da viagem com um motorista particular que é excelente e dirigia super bem. 🙂 10. Negocie sempre Na Índia quase tudo pode ser barganhado, nunca aceite o preço inicial. Negocie preço de táxi, tuk-tuk, guias, souvenir… Ao parar para ouvir a proposta de um motorista, por exemplo, você será cercado por vários outros. Se você simplesmente sair andando, o preço de qualquer coisa começa a cair. Negociar é válido, mas tente ser justo na sua proposta e também sempre dê gorjeta ao motorista e ao guia. 11. Desconfie das informações Malandragem e gente de má fé existem em qualquer lugar do mundo. Então sempre que você quiser informação na Índia, busque mais de uma fonte. É comum, por exemplo, motoristas dizerem que a atração x está fechada porque querem te levar em um local mais longe – e cobrar um pouco mais. Eles são muito insistentes em fazer um “combo” com atrações que você não pediu. Em um hotel o gerente falou que a estrada para a estação estava bloqueada, só para comprarmos uma passagem com ele pelo dobro do preço. Em outro hotel, o preço da troca do dólar variava conforme a vontade do recepcionista. 12. Leia atentamente as avaliações dos hotéis antes da reserva Isso é algo que deve ser feito sempre. Mas ao olhar hotéis pela Índia, fique atento às reclamações sobre limpeza, segurança do estabelecimento e vizinhança ou se há relatos de hóspedes que ficaram doentes por lá. Se você optar por hostels, evite quartos mistos. 13. Cuidado com a comida Na Índia a lógica é simples se é comida, é apimentada. O que eu adoro e gostei bastante dos pratos. Mas se você tiver algum problema com alimentos picantes ou curry, deve deixar isso bem claro ao garçom. Nas cidades turísticas é fácil encontrar culinária internacional ou você também pode recorrer às redes de fast food, como McDonald’s e KFC. Comida indiana é um deleite para quem gosta de pratos condimentados e para vegetarianos. Na dúvida de qual restaurante escolher, opte pelos que têm maior fluxo de pessoas. 14. Internet tem, mas tá faltando Eu tive mais dificuldade com internet na Índia do que em Cuba. Poucos restaurantes disponibilizam wifi e o sinal do hotel era bem ruim. Então o país exige um pouco de desprendimento nesse aspecto. Um solução é comprar um SIM Card e usar o 3G, que funciona bem por lá. Quando fui, em março de 2017, recebi ainda na imigração um voucher para um chip grátis. 15. A Índia é muito mais do que o Taj Mahal Jaipur, vista de um dos fortes Ele é uma das Sete Maravilhas do mundo moderno e é uma das coisas mais bonitas que vi na vida. Mas já que você irá enfrentar uma viagem tão longa, aproveite para conhecer mais do país. Se você tiver apenas uma semana, foque no triângulo dourado Delhi, Agra e Jaipur. Com dez dias, inclua no seu roteiro Varanasi, uma das cidades mais sagradas do mundo, foi o lugar mais incrível que vi por lá. Com mais tempo, é possível incluir cidades como a gigante Mumbai, a praia de Goa ou a natureza de Ooty. Jujurane waktu dateng ke malaysia agak bingung setelah tau kalo ternyata kebanyakan karyawan security, pelayan restoran dan buruh di malaysia itu orang asing. kalo kata temen ane ini terjadi karena rata rata penduduk di malaysia itu punya tingkat pendidikan yang tinggi gan otomatis mereka jarang yang mau kalo di suruh kerja seperti itu nah karena itu lah makanya malaysia banyak memakai jasa2 tenaga kerja asing seperti dari Indonesia,Bangladesh, myanmar, nepal, india dll. menyoal masa lalu,selalu menyimpan pilu,mengakar dan tertimbun,walau sepenggalnya terbalut datang di India, tahun India nehi nehi aca aca itu? India yang punya Taj Mahal? India yang terkenal dengan Shah Rukh Kahn itu? Yup, kadang aku pun enggak percaya pernah tinggal di negeri penuh drama selain Indonesia. Iya, tinggal. Aku, bersama ayah dan ibu, tinggal di India selama satu tahun, tepatnya di Roorkee. Saat itu aku berumur tiga, kami menetap karena ayahku melanjutkan studi S2 di sana. Kalau boleh jujur, enggak banyak yang bisa aku ingat, maklum, sudah tertimbun rumus, film, lagu, berita tadi malam, ditambah asam manisnya kehidupan. Tapi rilek aje, foto album di rumahku akan jadi penyelamat cerita penuh drama kali ini."HEY JANGAN NGATA-NGATAIN INDIA, NANTI AKU TIMPUK, LHO!" ujar temanku yang mengacungkan lobak, Rizki namanya. Jamal si tukang sayur kiri.Ternyata negeri ini enggak seburuk itu. Malahan sebelas dua belas dengan Indonesia. Ada tukang sayur keliling; abangnya ramah, suka gosip sama ibu-ibu, dan doyan bercanda. Persis seperti di kompleksku saat di sana -termasuk Jamal si tukang sayur- pun cukup fasih berbahasa inggris. Jadi aku enggak perlu belajar kuch kuch hota hai untuk bisa ngobrol dengan mereka. Coba lihat foto di atas, mukaku tampak betah dan berseri-seri, kan? Ibu kiri, aku ya kanan, dong.Bukan cuma Jakarta yang terkenal dengan gaduh klakson di lampu merah, kota-kota di India juga tak mau kalah. Daripada stres, kami memutuskan untuk bersepeda ke mana-mana. Seingatku, dulu di Roorkee belum terlalu ramai, tidak seperti Mumbay. Mungkin karena kota ini cenderung mirip Yogyakarta, kota hidup bersepeda saat itu menyisakan kenangan yang cukup menyedihkan. Drama pertama, aku pernah kehilangan sandal kesayangan saat ketiduran di perjalanan. Sandalnya jatuh di jalan, tapi baru sadar usai sampai rumah. Jangan ditanya, deh, nangis apa enggak. Ckck, memang enggak boleh terlalu sayang sama sesuatu atau seseorang, berabe kalau sudah Institute of Technology Roorkee. Foto sekolah di Indian Institute of Technology Roorkee. Kami sering bermain ke kampusnya saat akhir pekan. Bagus sekali, bunga-bunga di tamannya beragam, warnanya indah, wangi pula. Tapi, lagi-lagi aku menciptakan drama di taman kampus ini. Kalau dulu sudah ada kumparan dan akun Berita Heboh, bisa-bisa kisahku dibuat konten dengan judul Viral Bocah asal Indonesia Dimarahi karena Cabut Bunga di Taman Kampus aku yang pecicilan sejak kecil ini dengan polosnya mencabut bunga-bunga -iya, lebih dari satu- yang ada di taman kampus tersebut. Monmaap, Tiara, kamu kira ini Taman Ayodya yang bisa kamu petik bunga dan dedaunan di pohonnya itu? Halo???Ya, namanya juga anak kecil, mana paham kalau enggak boleh lari-lari berisik dan petik bunga? Penjaga taman di sana pun akhirnya memarahiku karena tertangkap dengan sengaja melakukan pelanggaran. Lagi-lagi aku mengeluarkan senjata andalan Menangis. Dan... Beginilah penampakannya sesaat setelah dimarahi si kakek tukang mau diajak foto dengan senyum sok kuat. Sama kaya cewek-cewek yang pundung tapi jawabnya "enggak, aku enggak apa-apa".Mari kita pindah ke episode berikutnya. Kali ini menyoal Holi atau Festival Warna -festival awal musim semi yang dirayakan di India, Nepal, dan negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama dari lubuk hati yang cukup dalam, meskipun aku senang tinggal di India, tapi aku harus jujur akan satu hal Aku tetap takut dengan orang India, terutama orang-orang yang tidak aku Holi. Coba perhatikan orang di belakang ibuku. ASTAGA semangat banget, mba, itu bubuk apa bedak?Alhasil, Holi ini berubah menjadi holly sh*t karena aku benar-benar enggak nyaman merayakannya. Mereka -orang-orang India yang padahal adalah rekan ayah dan ibuku- mencoret-coret, melempari bubuk, dan menyiram air berwarna-warni ke arah mukaku. Saat itu mungkin aku pikir bubuk-bubuknya sama dengan gas air mata. Ngeri, kan, kalau kena? Padahal biasa saja. Maaf, aku waktu kecil memang selalu ya, aku juga sempat jadi anak TK di sana. Beda dengan Indonesia, TK di India langsung belajar baca. Bahasa Inggris pula. Bosan, tidak menyenangkan, aku maunya main serodotan dan ayunan!! Tapi akhirnya lulus, kok. Alhamdulillah, walaupun sambat terus, TK, dapat bingkisan dari Duta Besar India saat juga jadi saksi bisu pertama kali aku memegang salju. Yup, di sana ada salju, tapi bukan di Roorkee. Harus menempuh lebih dari 4 jam untuk sampai ke tempat bersalju. Jangan tanya apa nama tempatnya, aku tidak ingat.... Mungkin Kashmir? Apa pun itu, salju tetaplah salju. Rasanya tetap dingin dingin sedap gimanaaa gitu. Seru!Entah pakai baju apa aku di sana kiri. Muka kedinginan kanan.Pertanyaan yang paling sering terlontar saat aku cerita soal tinggal di India adalah Kamu bisa nari India, dong? Bisa, dong! Waktu itu, ya, sekarang mah sudah enggak Kuch Hota Hai kebetulan rilis tahun 1998, selanjutnya ada Koi Mil Gaya yang tayang tahun 2003. Otomatis saat aku di sana, tarian India lagi super booming. Pakai sari -baju khas India- bindi untuk jidat, dan gelang-gelang berisik, aku pun ikut jadi anak mainstream pada tentang mafav mifav makanan favorit minuman favorit di India. Minuman paling enak dan selalu kuingat adalah Chai Tea. Rasanya kaya akan rempah, nikmat diminum hangat-hangat. Kalau soal makanan, kari juaranya. Biasanya disajikan dengan Chapati atau ayam khas India. Chai Tea yang legendariiiiissss. Foto pixabay“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” -Al-Baqarah 216Walaupun banyak hal negatif tentang India, hilang sendal, dimarahi tukang kebun, dan kena drama-drama lainnya, tapi pengalaman tinggal di negeri Shah Rukh Khan juga banyak tahun 2000 adalah sebagian dari sepenggal masa lalu yang sedikit pilu, namun akan selalu terbalut rindu. .