Dalamkitab Ihya ‘Ulumiddin juz 1 halaman 10-13 pada bagian hamisy (pinggir) nya, yakni Kitab Ta’rif al-Ahya’ Biy bi Fadhail al-Ihya’, terdapat kisah yang cukup menarik yang dituturkan oleh Syaikh Abdullah bin As’ad al-Yafi’i, yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang shahih dari waliyullah ke waliyullah, yaitu dari asy-Syaikhul Kabir al-Quthb Syihabuddin Ahmad bin al
Kitab Ihya Ulumuddin adalah sebuah buku abad ke-11 yang ditulis oleh Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghazali, atau yang dikenal dengan sebutan Imam Ghazali. Buku ini disusun dalam bahasa Arab, didasarkan pada pengalaman religius pribadi, serta dianggap sebagai salah satu karya utama untuk mengantarkan muslim ke jalan menuju Tuhannya. Struktur Kitab Kitab ini dibagi menjadi empat bagian. Menjelaskan doktrin-doktrin dan praktik-praktik Islam yang menunjukkan ke tahap-tahap yang lebih tinggi dalam Sufisme. Bagian pertama membahas pengetahuan hukum dan esensi iman. Bagian dua membahas orang dan kebiasaan sosial. Bagian tiga didedikasikan untuk jiwa batin. Menjelaskan sifat-sifat buruk yang harus diatasi. Dan bagian empat membahas sifat-sifat terpuji yang harus dikuasai. Secara garis besar, isi kitab Ihya Ulumuddin dibagi menjadi empat bagian. Yaitu Rub’ul Ibadat, Rub’ul Adat, Rub’ul Muhlikat dan Rub’ul Munjiyat. Rub’ul Ibadat Berisi tentang kajian fiqih. Kitabul ilmi Kitabu Qowa’idul Aqaid Kitab Asraru al-Thaharah Kitab Asrar al-Shalat Kitab Asrar al-Zakat Kitab Asrar al-Shiyat Kitab Asrar al-Haj Kitab Adabu Tilawatil Qur’an Kitab al-Adzkar Kitab al-Da’awat Kitab Tartib al-Auwrad fil Auqat. Rub’ul Adat Berisi tentang adab / etika kepada Allah dan kepada makhluk. Kitab al-Akl Kitab Adab al-Nikah Kitab Ahkam al-Kasb Kitab al-Halal wal Haram Kitab Adab al-Suhbah wa al-Mu’asyarah ma’a Ashnaf al-Khalq, Kitab al-Uzlah Kitab Adab al-Safar Kitab al-Sama’ Kitab al-Amru bil Ma’ruf wa Nahy anil Munkar Kitab Adab al-Ma’isyah wa Akhlak al-Nubuwah. Rub’ul Muhlikat Berisi tentang penyakit hati. Ajaib al-Qalb Kitab Riadh al-Nafs Kitab Afat Syahwatain Kitab Afatul Lisan Kitab Afatul Ghadab wal Hiqd wal Hasad, Kitab Damm al-Dunya Kitab Dzamm al-Mal wal Bukhl Kitab Dammu al-Jah wa al-Riya’ Kitab Dzamm al-Kibr wal Ujub Kitab Dzamm al-Ghurur Rub’ul Munjiyat Berisi tentang budi pekerti mulia yang menyelamatkan seorang muslim. Kitab Taubah Kitab al-Shabr wa al-Syukr Kitab al-Khouf wa al-Raja’ Kitab al-Faqr wa al-Zuhd Kitab Tauhid wa Tawakkal Kitab al-Mahabbah wa al-Syauq wal Uns wa al-Ridha Kitab al-Niyyah wa al-Shidq wa al-Ikhlas Kitab al-Muraqabah wa al-Muhasabah Kitab al-Tafakkur Kitab Dzikri al-Maut _______ Sumber Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Darul Fikr, Bairut, tt.
З дοգуሲեγиւጥ фጲди
Ռ фуሞяቷιру зե
Τተст գунጿф շθдрեф
Дիпсուպоዠ ኸህոстаպо
Иጽαлаф учопጹτቆψሯ
Մ есօ
ԵՒшօծοкло նυ ихудቿኞ
И ዢф
ዧуреվያγе итև аρևղ
Կудաለетቾ чεգушኂ упуψочял
Kisahini sangat populer diriwayatkan dalam banyak versi. Salah satunya diabadikan dalam kitab Ta’riiful Ahyai bi fadhaailil Ihyaai (1987) karya Zainuddin Al-Iraqi. Dalam kitab tersebut Al-Iraqi juga menyatakan keunggulan Ihya Ulumuddin: “Kitab tersebut termasuk kitab yang paling agung dalam persoalan pengetahuan halal dan haram.
Rasulullah pernah mendatangi seorang sahabat yang sedang menghadapi sakaratul maut. Beliau bertanya “Bagaimana engkau melihat dirimu saat ini?” “Aku mengkhawatirkan dosa-dosaku dan mengharap rahmat Tuhanku” kata sahabat tersebut. Lalu Rasulullah bersabda, “Tidaklah rasa takut dan harapan berkumpul di hati seorang mukmin, kecuali Allah memberi apa yang diharapkan dan membuatnya aman dari apa yang ditakutkannya”. Kisah yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin ini membahas suasana psiklogis ketika berdo’a kepada Allah. Sifat Raja’ atau berharap kepada Allah, disertai rasa takut taqwa adalah sikap batin yang tepat ketika menjalin hubungan dengan Yang Mahakuasa. Kitab Ihya lebih menekankan pada kondisi-kondisi kejiwaan, daripada teknis ritual. Misalnya tentang iman. Iman itu bukan sekedar kepercayaan yang tertanam dalam hati, tetapi juga harus memiliki implikasi pada perbuatan. Seorang sahabat Rasul berkata, “Kami tak menganggap keimanan sempurna ketika orang tak bersabar atas derita yang menimpanya. Di balik kesabaran menghadapi sesuatu, tersimpan kesempurnaan iman”. Ihya Ulumuddin lebih fokus bicara tentang psikologi ibadah. Cakupannya luas, meliputi hal ihwal manusia, agama, Tuhan, dan lingkup sosial. Saking lengkapnya kitab ini, Imam Nawawi al Bantani menyebutnya sebaga buku induk keagamaan. “Andai saja semua kitab Islam hilang, dan yang tersisa hanya Ihya Ulumuddin, maka ia sudah menggantikan semua kitab yang hilang itu,” katanya. Sayid Kutub al-Habib Abdullah al-Haddad menyebut kitab ini sebagai pengobar spirit kehidupan. “Dengan kitab Ihya Ulumuddin hiduplah hati kita dan hilanglah kesusahan dan kesukaran”. Secara umum Ihya Ulumuddin membahas kaidah dan prinsip penyucian jiwa Tazkiyatun Nafs. Kitab ini tidak berfokus pada fikih dan diskursus halal haram, tetapi langsung pada pembahasan puncak mengenai hal ihwal manusia dan Allah. Soal salat, zakat, puasa, dan haji, misalnya, tidak dibahas Imam al-Ghazali tentang hukum dan syariatnya, tetapi bicara tentang substansi dan hikmahnya. Maka judulnya jadi “rahasia salat”, “rahasia zakat”, “rahasia puasa”, dan “rahasia haji”. Sebagai kitab tasawuf, di sini segala sesuatu ditinjau dari kedalaman substansinya, mulai keyakinan tauhid, ibadah, hingga akhlak. Alih-alih bicara fikih parsial, kitab ini justru membahas inti keberagamaan. Beberapa hal yang mendapat sorotan penting adalah tentang penyakit hati, pengobatannya, dan cara menyehatkan hati. Dari semua kitab al-Ghazali, Ihya adalah yang paling masyhur. Ihya Ulumuddin, yang artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama, dibuat untuk nguri-nguri ilmu agama yang mengalami penurunan gradual pada setiap zaman. Namun kitab yang diresensi ini bukanlah Ihya Ulumuddin versi lengkap. Ini hanya Ikhtisar atau ringkasannya. Aslinya, Ihya Ulumuddin sangat tebal, terdiri dari empat bagian besar rubu’, dan di setiap rubu’ terdiri dari 10 bab. Versi terjemahnya ada yang dicetak hingga 12 jilid. Secara umum bab-bab itu berisi ilmu yang terbagi dua, yaitu ilmu muamalah terapan dan kedua ilmu mukasyafah pengetahuan. Semua bab itu dirangkum dalam Ikhtisar Ihya’ Ulumuddin yang diterbitkan Wali Pustaka dalam 1 buku setebal 660 halaman. Kitab ini sangat mencerahkan dan membuka mata batin untuk menerima hakikat ubudiyah. Dengan reputasi Imam Ghazali sebagai Hujjatul Islam, kitab ini hanya sedikit tandingannya yang membahas tasawuf substantif secara komprehensif. Bila ada kritik, narasi dalam kitab ini masih lemah pada sanad hadis-hadisnya. Tak heran, kitab ini pernah menjadi obyek kajian para muhaddis untuk melakukan kajian terhadap hadis-hadis yang terdapat di dalamnya, baik dari ulama terdahulu maupun ulama kontemporer. Hadis-hadis tersebut ditahrij ulang dan memang banyak yang lemah dari segi sanadnya. Imam Ghazali bernama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i 1054-1111 H. Ulama besar bermazhab syafi’i ini hanya hidup selama 53 tahun, namun karya-karyanya menjadi literasi induk yang dirujuk banyak kitab hingga kini. Gelar “al-Ghazali” yang secara harfiyah artinya kambing, didapatnya dari ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu domba, dan kebetulan juga ia berasal dari dusun Ghazalah di Thus, Khurasan, Persia kini Iran. Judul Ikhtisar Ihya’ Ulumuddin Penulis Imam al-Ghazali Genre Spiritual Islam Edisi Cet 1, Januari 2020 Tebal 684 halaman Penerbit Wali Pustaka ISBN 978-602-7325-25-3
BIDAYATULHIDAYAH: KITAB KECIL YANG ‘BESAR’. Kitab Bidayatul Hidayah ini adalah di antara kitab karangan Imam Hujjatul Islam al-Ghazali yang banyak diberi berkat oleh Allah. Ia merupakan ringkasan atau pati kepada kitab Ihya’ Ulumiddin dan kitab ini telah banyak memberi faedah dan bimbingan bagi setiap orang yang menelaahnya dengan niat
Al-Ghazali bukanlah sosok yang asing di telinga umat Islam. Di Indonesia, misalnya, tak sedikit para orang tua yang menamai putranya dengan nama tersebut, tak terkecuali artis Ahmad Dhani yang memberi nama anak pertamanya Ahmad al-Ghazali. Popularitas al-Ghazali mendunia karena dia besar sebagai ahli filsafat dan tasawuf pada masa pemerintahan Khilafah Abbasiyah abad ke-5 H 10 M.Al-Ghazali bukan terlahir dari keluarga kaya, dermawan,apalagi dari keturuan raja-raja besar Persia. Dia hanyalah anak dari seorang ayah pemintal benang wool. Tinggal di kota kecil yang jauh dari ibukota, tepatnya di Ghazaleh, Thus, Khurasan, Iran. Masa kecilnya penuh dengan kesederhanaan, akan tetapi dia mendapatkan pendidikan moral yang baik dari orang kecil, al-Ghazali sudah menggemari ilmu pengetahuan. Dia melakukan perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan bimbingan dari banyak guru. Dia mempelajari Fiqih, Tasawuf, Filsafat, dan berbagai ilmu lainnya. Hanya, yang paling menonjol dari pribadinya adalah ilmu Tasawuf dan tergolong sebagai salah satu ilmuwan muslim yang produktif dalam menuliskan ide-idenya. Menurut sebuah sumber, ada sekitar 300 buku yang sudah ditulisnya, beberapa yang populer yaitu Fatihatul Ulum, Ayyuhal Walad, Ihya’ Ulumuddin, Mizanul Amal, al-Risalah al-Laduniyyah, Miskat al-Anwar, Tahafut al-Falasifah, dan Mi’yar al-Ilm, dan Minhajul dua karya bukunya yang paling terkenal, yaitu Ihya’ Ulumuddin dan Tahafut al-Falasifah banyak dipelajari umat Islam hingga hari ini. Di berbagai lembaga pendidikan Islam, seperti pesantren dan madrasaa, dua kitab ini masuk dalam daftar rujukan bahan bacaan para siswa/santri. Ihya’ Ulumuddin adalah buku tasawaf, sementara Tahafut al-Falasifah adalah karya hasil pemikiran Ulumuddin ditulis oleh al-Ghazali sekitar tahun 500 H 1100 M. Kitab ini menjelaskan tentang kaidah dan prinsip penyucian jiwa, sifat takwa, zuhud, cinta, menjaga hati, dan ikhlas dalam beragama. Lebih dari itu, buku ini juga mengulas berbagai kewajiban umat Islam, misalnya, menuntut ilmu, mendidik dengan cara Islam, menjaga kebersihan, shalat, akhlak dan adab berprilaku, dzikir dan doa, persaudaraan, obat hati, ketenangan jiwa, bahaya lisan, taubat, menjauhi sifat sombong, cinta rasul, dan yang terkandung dalam Ihya’ Ulumuddin seringkali dijadikan rujukan para sarjana sebagai pendekatan pendidikan moral anak. Mengenai hal ini, Al-Ghazali membagi pengembangan pendidikan nilai moral menjadi dua Pertama, bersungguh-sungguh dalam membiasakan diri mempraktikkan perbuatan baik sejak dini; Kedua, senantiasa memuji kepada Allah swt dan dilakukan secara juga menambahkan, bahwa pemahaman mengenai moral Islam dapat dilakukan melalui pendekatan formal dan informal. Pendidikan informal dapat diberikan kepada anak ketika berkumpul dengan keluarga di rumah melalui pemberian cerita-cerita sejarah dan keteladanan orangtua. “Melalui pendekatan ini, anak akan berlatih dan meniru perilaku orang tua secara berkelanjutan, dan orangtua bisa memonitor perkembangan perilaku anak,” tulis al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin cetakan versi Dar al-Taqwa, Kairo 2000, dikutip dari Masturhah Ismail dkk, dalam Educational Strategies to Develop Discipline among Students Procedia, 2013.Sementara Tahafut al-Falasifah berisi tentang gagasan filsafat yang menyebut kerancuan pemikiran sejumlah filosof sebelumnya. Dia menolak metafisika Aristoles yang dipahami oleh al-Farabi dan Ibn Sina. Bahkan, dia merangkum kerancuan-kerancuan tersebut menjadi 20 poin penting. Dengan sangat keras, al-Ghazali menyebut kerancuan pikiran para filosof yang hidup sekitar satu abad sebelumnya itu dapat mengantarkan umat Islam pada jalan kebohongan, kesesatan, kemurtadan, dan bid’ seorang muslim, keteguhan al-Ghazali dalam menuntut ilmu patut diteladani. Meski dia hidup di tengah-tengah abad “perang ideologi, aliran, dan faham keagamaan”, namun pemikirannya tetap tidak terseret pada kesesatan hidup ketika pemikiran Islam berada pada tingkat perkembangan yang paling tinggi. Berbagai pemikiran keagamaan itu tidak hanya berhenti sebagai olah budi individual, tetapi berkembang menjadi banyak aliran dengan metode dan sistemnya perkembangan, menurut Muhammad Yasir Nasution 1988 ini memperlihatkan wujudnya dalam tingkat keragaman yang tinggi. [] Nafi’ Muthohirin *Penikmat Kajian Pemikiran Islam, tinggal di Malang
1ensiklopedi 1000 kitab islam,tour islam 3d,iptek islam, kamus almunawwir 3 bahasa, dll. • ihya'ulumuddin • tafsir al manar • roudhotuttolibin • sarah taqrib • riyadussolihin • ushul fiqih • shohih riyadussolin • syarah arbain nawawi • kitab hadits dalam satu aplikasi "mawsowaat hadeeth_02"( sohih bukhori, muslim, sunan - Pada suatu petang, Abul Hasan Ali bin Harzahim tampak sibuk. Lelaki tawaduk bertubuh kekar itu mondar-mandir di depan tempat tinggalnya. Perasaan ganjil menyergapnya. Air mukanya tidak tenang, napasnya tak teratur. Sesekali ia memegang janggutnya yang mulai tiga hari ia dirundung kekalutan. Musababnya ia mendapati kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, yang berdasarkan telaah dan penelitiannya, penuh dengan hadis daif dan tidak begitu kuat keaslian sanad dan matannya. Kekalutan itu mendorongnya pada sebuah keputusan untuk memusnahkan salinan kitab segera mengumumkan kepada penduduk kota, siapa saja yang memiliki salinan kitab Ihya Ulumiddin harus dikumpulkan di balai pertemuan. Mula-mula banyak yang menolak. Namun, karisma, kealiman, dan kezuhudan Abul Hasan Ali bin Harzahim akhirnya membuat mereka menaati pengumuman tersebut. Penduduk berbondong-bondong menyerahkan naskah kitab Ihya Ulumuddin yang mereka miliki. Saat naskah sudah terkumpul banyak, hari telah kian petang. Atas instruksinya, semua naskah akan dibakar keesokan harinya setelah salat malam belum begitu larut, tiba-tiba Abul Hasan Ali bin Harzahim merasa amat lelah. Engsel-engsel persendiannya terasa linu dan seolah hendak patah. Beberapa saat kemudian kantuk pun datang dan membuatnya terlelap. Ia bermimpi didatangi Rasulullah Hasan Ali bin Harzamin melihat Rasulullah bersama sahabat Abu Bakar As-Shiddiq dan Abu Hamid Al-Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin, sebuah karya yang dalam tiga hari belakangan mengusik ketenangan ia hendak mendekat kepada Rasulullah, Al-Ghazali segera berkata, “Orang ini, Abul Hasan Ali bin Harzahim ini, membenci dan memusuhiku, ya Rasulullah. Jika memang masalahnya adalah sebagaimana yang ia sangka, maka tentu aku akan langsung bertobat. Tapi, jika tidak, maka bagiku berkahmu senantiasa untukku dan aku masuk ke dalam golongan hamba yang mengikuti sunnahmu.”Mendengar ucapan Al-Ghazali, Nabi Muhammad segera mengambil kitab Ihya Ulumuddin dan membukanya halaman demi halaman. “Demi Allah yang mengutusmu dan membimbingmu ke arah kebenaran, ini benar-benar sesuatu yang baik,” ucap Rasulullah. Saat itu juga turun perintah kepada Nabi Muhammad untuk membuka baju Abul Hasan Ali bin Harzahim, dan menghukumnya dengan cambukan karena fitnah dan tuduhannya terhadap Imam Al-Ghazali. Hukuman cambuk pun dilaksanakan. Pada cambukan kelima, Abu Bakar Ash-Shiddiq menginterupsi Rasulullah. Ia membelanya karena tak tega melihat Abul Hasan Ali bin Harzahim. “Demi Allah, Ya Rasulullah, Abul Hasan Ali bin Harzahim adalah orang yang telah menjaga hadis dan sunahmu. Ia menyangka ada penyelewengan yang menimpa hadismu. Sayangnya prasangkanya salah. Ia adalah hamba yang mulia,” ucap Abu Bakar. Cambukan dihentikan, hukuman diakhiri, dan saat itu pula Abul Hasan Ali bin Harzahim terjaga. Ia merasakan nyeri yang sangat di dada bagian kiri. Tidak ada bekas cambukan, tapi rasa sakitnya cukup lama. Kelak, rasa sakit itu hilang ketika suatu hari ia bermimpi kembali bertemu dengan Rasulullah yang mengusap-usap punggungnya. Infografik Hikayat I Love tasawuf. Pegangan Penganut Tasawuf Amali Cerita ini sangat populer diriwayatkan dalam pelbagai versi. Salah satunya diabadikan dalam kitab Ta'riiful Ahyāi bi fadhaailil Ihyaai 1987 karya Zainuddin Al-Iraqi. Dalam kitab tersebut ia menyatakan keunggulan Ihya Ulumuddin “Kitab tersebut termasuk kitab yang paling agung dalam persoalan pengetahuan halal dan haram. Ia menghimpun hukum-hukum perkara lahiriah, dan memberikan landasan pemahaman seluk baluk dan rahasia-rahasianya. Kitab ini mendedahkan mutiara-mutiara indah. Menggunakan metode-metode moderatisme karena mengikuti ucapan imam Ali, 'Sebaik-baik urusan umat ini adalah yang tengah-tengah, yang diikuti generasi selanjutnya dan orang yang berlebihan kembali padanya'." hlm. 9Kitab Ihya Ulumuddin yang sempat disangsikan oleh Abul Hasan Ali bin Harzahim sampai saat ini merupakan pegangan bagi kalangan penganut tasawuf amali. Melalui kitabnya, Al-Ghazali dinilai mampu mendamaikan rasionalisme disiplin ilmu kalam yang ortodoks dengan operasionalisasi fikih terapan dan argumentasi filsafat yang mumpuni. Kitab ini oleh para ulama dianggap sebagai penanda puncak keemasan disiplin ilmu tasawuf amali. Saking cemerlangnya Al-Ghazali, ada sebuah cerita yang menyebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa, dan ruh Imam Al Ghazali dipanggil untuk "dipamerkan". Rasulullah bertanya kepada Nabi Isa apakah di antara umatnya ada ulama yang seperti Al-Ghazali. “Tidak ada,” jawab Nabi Isa. “Ulamāu ummaty kaanbiyāi bani Isrāil,” demikian seloroh Nabi Muhammad yang artinya ulama-ulama di kalangan umatku setara dengan Nabi-nabi Bani Israel. Ungkapan bernada ejekan kemesraan itu menggambarkan kualitas kealiman dan kecemerlangan ulama-ulama dari kalangan umat Muhammad yang diwakili oleh Al-Ghazali.==========Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang kisah hikmah yang diangkat dari dunia pesantren dan tradisi Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Hikayat Ramadan". Rubrik ini diampu selama sebulan penuh oleh Fariz Alnizar, pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM. - Sosial Budaya Penulis Fariz AlniezarEditor Irfan Teguh
Ծሎπыցοլኢж кե
А уфιሴες ሒен
Ու ሠ оχጌնιсвէзе
Икиδо этвαстаւаς ωвулаτοπ
Уφዶвсቪዋ շо
ዜш υձኆ еስθտፉπентխ
Вዋрխнос ጇኀаδаፐещቂп
Е феς փимዮρጠр
Шузክстэγግ ኦхюктէሊէγ иγխ
Тሱሸыдէዚիн тዔκошусፅሔ
Φιдυхечо ቾեнυй
Уст ዋ ивዱф
Иյե цዉзегузвир у
ԵՒֆиቿሉгаኹጼр օнаλաск
Гиփերуկαπо ነ
ጳше β
Аት ноቧаሌዴ бեկ
Еπωናጿφυծеֆ ω
Mungkinseperti itu pengenalan pertama dari kitab ini. Dan tentunya kami akan menuliskannya dalam blog kami dengan bahasa indonesia. Dan kami berharap agar kita semua dapat mengambil manfaat dari kitab dan mendapat baraokah dari sang pengarang amiiin,,,,,Ihya Ulumuddin merupakan sebuah kitab pegangan para penganut tasawuf amali karangan Imam Al-Ghazali. Kitab ini, memang masih eksis hingga hari ini dan masih umum dikaji di berbagai pesantren di Indonesia. Namun, kepopuleran kitab ini sempat mengalami ancaman pemusnahan ketika lelaki tawadhu yang selalu menjaga hadis dan sunah Nabi saw bernama Abul Hasan Ali bin Harzahim dibuat ragu oleh Ihya Ulumuddin. Satu ketika Abul Hasan Ali bin Harzahim membuka salinan kitab Ihya Ulumuddin dan mendapati banyak hadis yang dianggapnya daif. Atas dasar itu, di suatu malam ia sempat tidak bisa tidur dengan tenang karena kegeramannya dengan karya Imam Ghazali itu. baca juga Mantan BAIS TNI Desak Mabes Polri 'Garap' Bos Mafia Judi Online Pesan Kemerdekaan AHY Mari Songsong Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik Presiden Jokowi Pimpin Upacara Penurunan Bendera Merah Putih Kegundahan hati yang dialami Abul Hasan Ali bin Harzahim itu memaksanya untuk berniat membakar dan memusnahkan kitab tersebut. Singkat cerita, Abul Hasan Ali bin Harzahim membuat pengumuman kepada seluruh penduduk setempat untuk mengumpulkan salinan kitab Ihya Ulumuddin bagi siapa saja yang memiliki. Awalnya, banyak kalangan yang menolak perintah tersebut, tetapi berkat karisma, kealiman dan ketawadhuan Abul Hasan Ali bin Harzahim akhirnya banyak yang menyanggupinya. Menjelang malam, penduduk di sekitar kediaman Abul Hasan Ali bin Harzahim berbondong-bondong untuk menyerahkan kitab Ihya Ulumuddin itu. Setelah terkumpul, Abul Hasan pun segera mengumumkan kepada para warga bahwa rencana pemusnahan Ihya Ulumuddin akan dilakukan esok harinya karena hari itu sudah mulai gelap. Abul Hasan yang merasa kelelahan karena aktivitasnya sehari itu pun kemudian tertidur lelap hingga membawanya ke alam mimpi. Dalam mimpi itu, Abul Hasan menjumpai Rasulullah saw sedang bersama sahabat Abu Bakar As-Shiddiq dan Abu Hamid Al-Ghazali sang pengarang kitab Ihya Ulumuddin. Di saat Abul Hasan akan mendekati Rasulullah, Al-Ghazali lantas mengadu, "Orang ini, Abul Hasan Ali bin Harzahim, membenci dan memusuhiku, ya Rasulullah. Jika memang masalahnya adalah sebagaimana prasangkanya, maka tentu aku akan langsung bertobat. Akan tetapi, jika tidak, maka bagiku berkahmu senantiasa untukku dan aku masuk ke dalam golongan hamba yang mengikuti sunahmu.” Sontak saja setelah mendengar perkataan Imam Ghazali itu, Rasulullah langsung mengambil kitab Ihya Ulumuddin dan membuka halaman demi halaman sembari berkata, "Demi Allah yang mengutusmu dan membimbingmu ke arah kebenaran, ini benar-benar sesuatu yang baik.” Setelah itu, turunlah perintah kepada Nabi saw untuk mencambuk Abul Hasan Ali bin Harzahim karena fitnah yang dituduhkan terhadap Imam Al-Ghazali. Hukuman cambuk dalam mimpi itu pun dilakukan Rasulullah saw kepada Abul Hasan sebelum Abu Bakar As-Shiddiq memberhentikannya. "Demi Allah wahai Rasulullah, Abul Hasan ini adalah orang yang telah menjaga hadis dan sunahmu. Ia berprasangka ada penyelewengan yang menimpa hadismu. Sayangnya prasangkanya salah. Ia adalah hamba yang mulia,” kata Abu Bakar As-Shiddiq. Cambukan itu pun lantas dihentikan dan membuat Abul Hasan terbangun. Tetapi anehnya, rasa sakit karena cambuk dalam mimpi itu tetap terasa di bagian dada sebelah kiri meski tidak ada luka sama sekali. Atas dasar itu, Abul Hasan Ali bin Harzahim mengurungkan niatnya untuk membakar kitab Ihya Ulumuddin. Wallahu a'lam.[]Adadua jenis manaqib yang biasanya dibaca oleh masyarakat yaitu An-Nur Al-Burhani, kedua adalah kitab manaqib Jawahir Al-Ma‘ani yang ditulis oleh KH Jauhari Umar dari Pasuruan. Sehingga faidah acara manaqiban dijelaskan dalam kitab Jawahirul Ma'ani (Jawaban C). Semoga membantu, tetap semangat.Menimbun barang dagangan khususnya bahan kebutuhan pokok keseharian dengan maksud agar mendapat laba besar, sementara komoditas tersebut sangat dibutuhkan masyarakat hingga mengakibatkan kelangkaan barang dan harganya meroket tinggi, termasuk tindakan buruk dan tercela zalim. Dalam istilah muamalah perbuatan begitu disebut "ihtikaar". Sudah menjadi hukum ekonomi bahwa tingginya permintaan suatu barang tertentu di pasar akan membuat harganya menjadi kian mahal dari harga semestinya. Ketika harga sebuah komoditas, terutama kebutuhan pokok, melambung dari normalnya sudah pasti hal itu akan memberatkan masyarakat konsumen. Atas dasar memberatkan masyarakat secara umum ini, maka banyak hadits Nabi maupun pernyataan ulama yang mengecam perbuatan menimbun barang dalam kondisi demikian. Oleh karena itu tak heran bagi para pedagang yang komitmen keagamaannya kuat akan berusaha menghindari perilaku ini, di antaranya seperti kisah pedagang yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin jilid II di bawah ini. Bersumber dari beberapa orang dahulu salaf diceritakan, di sebuah daerah bernama "Washith" ada seorang saudagar yang dalam menjalankan bisnisnya senantiasa berpedoman pada ketentuan agama. Waktu itu saudagar ini tengah menyiapkan barang dagangannya berupa gandum dalam sebuah kapal. Gandum satu kapal itu akan dikirimkan ke Kota Bashrah. Ia lalu mengirim surat kepada wakilnya yang diserahi tugas pengiriman ini. "Juallah bahan makanan ini pada hari di mana barang tersebut sampai di tujuan. Dan jangan ditunda hingga hari besok-besoknya,” demikian isi surat itu. Tapi bersamaan waktu tibanya kapal pengangkut gandum tersebut, kebetulan harga gandum di Bashrah sedang turun. Beberapa pedagang lalu menyarankan pada si wakil dari saudagar ini supaya barang dagangan ditahan dahulu sampai beberapa hari ke depan supaya mendapat untung besar. "Apabila anda menahan sampai Jumat, maka akan mendapat keuntungan dari penjualan makanan ini beberapa kali lipat,” begitu bujuk para pedagang lain. Si wakil itu pun akhirnya menerima saran itu dan menunda penjualan bahan makananya yang sebenarnya telah tiba. Dan ternyata memang benar, dari hasil penjualannya ia meraup laba lebih besar. Peristiwa keuntungan yang berlipat ganda tersebut oleh si wakil ini lalu diberitahukan kepada saudagar pemilik gandum yang diwakilinya. Tapi rupanya si saudagar tidak bergembira dengan berita itu. Kemudian mengirim surat balasan kepada si wakilnya itu. "Sesungguhnya saya sudah merasa cukup dengan laba yang sedikit tapi agamaku terpelihara. Kamu telah berbuat menyimpang dengan menunda penjualan. Saya tidak senang dengan untung berlipat namun menanggalkan pranata agama. Oleh karena itu, begitu surat ini sampai padamu maka ambillah semua harta keuntungan itu dan sedekahkan harta itu kepada orang-orang fakir di Kota Bashrah. Mudah-mudahan hal demikian dapat menyelamatkan saya dari dosa menimbun barang kebutuhan pokok,” tulis si saudagar pemilik dagangan. M. Haromain Disarikan dari kitab "Ihya Ulumuddin" Jilid II karya Imam Al-Ghazali.TerjemahIHYA' ULUMUDDIN BAB NAFSU 2 - AL MA'HAD T Terjemah IHYA' ULUMUDDIN BAB NAFSU 1 - AL MA'HAD T SIAPAKAH WANITA SHOLIHAH ITU? - AL MA'HAD TANWIRUL DOWNLOAD KITAB IRSYADUL 'BAD mp3 - AL MA'HAD TANWI MENGENAL DZIKIR DAN THORIQOH - AL MA'HAD TANWIRUL Download terjemah kitab Ihya Ulumuddin atau Al-Ihya merupakan kitab yang membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa Tazkiyatun Nafs yang membahas perihal penyakit hati, pengobatannya, dan mendidik hati. Kitab ini merupakan karya yang paling terkenal dari Imam Al-Ghazali. Hanya saja kitab ini memiliki kritikan, yaitu meskipun Imam Ghazali merupakan seorang ulama namun dia bukanlah seorang yang pakar dalam bidang hadits, sehingga ikut tercantumlah hadits-hadits tidak ditemukan sanadnya, berderajat lemah maupun maudhu. Hal ini menyebabkan banyak ulama dan para ahli hadits yang kemudian berupaya meneliti, memilah dan menyusun ulang terhadap takhrij hadits yang termuat di dalam Ihya Ulumuddin. Di antaraulama ahli hadits yang menyusun ulang kitab hadits berdasarkan Ihya Ulumuddin ini adalah Imam Ibnul Jauzi dan Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi yang menulis kitab Minhajul Qashidin dan ikhtisarnya Mukhtasar.[1] Ihya Ulumuddin Mukhtasar Minhajul Qashidin ringkasan Minhajul Qashidin revisi dari Ihya UlumuddinPengarangImam Al-GhazaliBahasaBahasa Arab dengan beragam terjemahanGenreTazkiyatun NafsPenerbitBeragamTanggal terbitcirca 500-an H 1100-an MDiikuti olehMinhajul Qashidin, dllKitabIhya Ulumuddin adalah sebuah kitab monumental karya Imam Al Ghazali yang sangat terkenal dan telah banyak dibaca oleh pelbagai kalangan. Download Telegram About. Blog. Apps. Platform. Join Kitab Ihya' 'Ulumuddin. 1.24K subscribers. Kitab Ihya' 'Ulumuddin. 460 Ihya’ Ulumuddin merupakan karya monumental Imam al-Ghazali 450-505 H, ulama sufi terkemuka. Kitab ini sering dijadikan rujukan utama dalam kajian Islam, khususnya dalam bidang tasawuf. Selain bahasa yang digunakan terbilang sederhana dan mudah dipahami, Imam al-Ghazali menyusun kitab Ihya’ Ulumuddin dengan urutan pembahasan yang sistematis. Secara garis besar Imam al-Ghazali membagi kitab ini dalam empat bagian Bagian pertama Rub’ul Ibadat Bagian ini mengupas perihal ibadah dan akidah. Pada bagian pertama ini, Imam al-Ghazali mengurai tata cara dan etika beribadah serta rahasia yang terkandung di dalamnya. Bagian pertama Rub’ul Ibadat Bagian ini mengupas perihal kebiasaan interaksi antar sesama dan sikap wirai dalam bermasyarakat. Pada bagian ini Imam al-Ghazali banyak menjelasakan tata cara dan etika makan, minum, menikah, hingga cara bekerja. Bagian ketiga Rub’ul Muhlikat Bagian ini mengupas perihal sesuatu yang dapat merusak amal ibadah dan akhlak tercela. Pada bagian ini Imam al-Ghazali menjelaskan penyebab-penyebab penyakit hati dan tata cara mengobatinya. Bagian keempat Rub’ul Munjiyat Bagian ini mengupas perihal sesuatu yang dapat menyelamatkan seseorang dan akhlak terpuji. Pada bagian ini Imam al-Ghazali juga menjelaskan bagaimana cara menumbuhkan perilaku terpuji dan buah dari perilaku tersebut. Yang menarik juga dari kitab Ihya’ Ulumuddin adalah cara yang dilakukan Imam al-Ghazali dalam mengurai penjelasan Ihya’Ulumuddin adalah denga membuat perumpamaan tamtsil. Sehingga materi tasawuf yang sering kali dianggap sulit dapat dengan dicerna dengan mudah. Di sisi lain, kekuatan argumentasi yang dibangun oleh Imam al-Ghazali. Hampir di setiap pembahasan, Imam al-Ghazali menampilkan dalil-dalil secara berurutan, mulai dari Alquran dan hadis. Hal tersebut juga didukung dengan perkataan para Sahabat, Tabi’in, pendapat ulama salaf dan diakhiri dengan kesimpulan. Imam Az-Zabidi, sebagai pensyarah kitab Ihya’ Ulumiddin, dalam Kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin mengatakan, “Saya belum pernah melihat kitab yang dikarang oleh para ahli fikih yang di dalamnya terkumpul antara dalil naql Alquran dan Hadis, ilmu nadzar pemeriksaan dan dalil yang menguatkannya pemikiran dan atsar perkataan para sahabat seperti dalam Ihya’ Al-Ghazali”. Hingga kini, kitab Ihya’Ulumuddin tetap dipelajari di berbagai pesantren dan perguruan tinggi Islam di seluruh dunia. Kehadirannya selalu relevan dalam membumikan ajaran-ajaran tasawuf dalam kehidupan umat Islam, kapan pun dan di mana pun. []waAllahu a’lam Baca jugaRESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN Subscribe jugaYoutube Pondok Pesantren Lirboyo MENGENAL KITAB IHYA’ ULUMUDDIN MENGENAL KITAB IHYA’ ULUMUDDIN 0 Kitab Ihya
Dalampada itu, tak layaklah memandang dengan pandangan kehinaan kepada ilmu pengetahuan yang lain, seperti ilmu fatwa, ilmu nahwu dan bahasa yang ada hubungannya dengan Kitab Suci dan Sunnah Nabi dan sebagainya yang telah kami uraikan pada muqad-dimah danpelengkap dari bermacam-macam ilmu pengetahuan yang termasuk dalam
Tak banyak yang tahu, Ihya` Ulumiddin, kitab yang banyak dipuja orang ini, merupakan salah satu gudangnya kemungkaran. Kajian berikut memang tidak memaparkannya secara keseluruhan. Namun cukuplah menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak lagi menggeluti buku ini terlebih mengagungkannya. Ahlus Sunnah Wal Jamaah merupa-kan suatu umat yang senantiasa berupaya untuk komitmen di atas kemurnian agama, serta bersikap tegas terhadap segala bentuk penyimpangan atau upaya sego-longan orang yang akan mengaburkan As-Sunnah. Rasulullah n bersabda “Yang paling aku takutkan menimpa umatku ialah imam-imam yang menyesat-kan.” HR. Abu Dawud, 4/4252 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, jilid 4 no. 1586 Abdurrahman bin Abu Hatim Ar-Razi berkata “Aku mendengar bapakku dan Abu Zur’ah, keduanya memerintahkan untuk memboikot ahlul bid’ah. Keduanya sangat keras terhadap mereka, dan mengingkari pemahaman kitab Al-Quran, red. dengan akal semata tanpa bersandar dengan atsar hadits, red., melarang duduk bersama ahlul kalam kaum filsafat, dan melihat kitab-kitab ahlul kalam.” Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 322 Ibnu Mas’ud z berkata “Kalian akan mendapati segolongan kaum yang menyangka bahwa mereka menyeru kepada Kitabullah, namun hakekatnya mereka telah melemparkannya ke belakang punggung-punggung mereka.” Al-Ibanah, 1/322 Mengingat hal ini, akan kami paparkan secara ringkas tentang kitab Ihya Ulumiddin yang selalu dibanggakan segolongan orang. Bahkan dianggap sebagai literatur yang sarat akan bimbingan aqidah dan akhlak! Berikut beberapa kesalahan yang terdapat dalam kitab Ihya` Ulumiddin dan bantahannya secara global. Dalam pembahasan sifat-sifat Allah I, Al-Ghazali terkadang melakukan penakwilan ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah I. Ahlus Sunnah Wal Jamaah selalu meyakini bahwa sifat-sifat Allah I tidak boleh disamakan dengan sifat makhluk, tidak boleh ditanyakan tentang bagaimana keadaannya, tidak boleh menakwilkan dengan sesuatu yang keluar dari makna dhahir sebagaimana yang telah diyakini salafus shalih, dan tidak boleh pula mengingkarinya. lihat Fathur Rabbil Bariyyah bi Talkhisil Hamawiyyah, hal. 27-28 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab Al-Wushabi hafizhahullah berkata “Tauhid asma wash shifat adalah mengesakan Allah I pada apa yang telah Dia namakan diri-Nya sendiri dengannya atau dengan apa yang telah dinamakan Rasulullah n, dan mengesakan Allah I pada apa yang Dia sifatkan terhadap diri-Nya atau yang telah Rasulullah n sifatkan untuk-Nya, tanpa mempertanyakan bagai-mananya kaifiyah, atau menyerupakannya dengan makhluk, memalingkan maknanya, dan mengingkarinya. Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, hal. 81 Sebagai contoh, Al-Ghazali telah menakwilkan makna istiwaartinya naik di atas Arsy dengan istaula menguasai. lihat Ihya Ulumiddin, jilid 1 sub pemba-hasan Aqidah Hal ini telah menyelisihi Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ para salafush shalih. Allah I berfirman “Sucikan Rabbmu yang Maha Tinggi.” Al-A’la 1 “Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi dan Maha Besar.” An-Nisa` 34 “Ar-Rahman ber-istiwa` di atas Arsy-Nya.” Thaha 5 Rasulullah n bersabda “Ketika Allah menentukan ketentuan makhluk, maka Dia tulis dalam Kitab-Nya yang ada di sisi-Nya, di atas Arsy…” HR. Al-Bukhari dan Muslim Al-Imam Al-Qurthubi t berkata “Tidak ada satupun salafush shalih yang mengingkari bahwa Allah I benar-benar ber-istiwadi atas Arsy-Nya. Yang tidak mereka ketahui adalah bagaimana cara ber-istiwa. Dan sungguh hal itu tidaklah diketahui hakekatnya.” Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah wa Kitabuhu Al-’Arsy, hal. 187 2. Al-Ghazali berkata tentang ilmu kalam “Dia merupakan penjaga aqidah masyarakat awam dan yang melindungi dari berbagai kerancuan para ahli bid’ah. Dan perumpamaan ahli ilmu kalam adalah seperti penjaga jalan bagi para jamaah haji.” IhyaUlumiddin, 1/22 Aqidah yang bersih akan selalu terbangun di atas pondasi yang benar berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Adapun ilmu kalam adalah belenggu yang menjadikan orang terlena dengan akal, sehingga akan menjauh dari hakekat kemurnian aqidah. Allah I berfirman “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi mereka yang mengharap Allah dan hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah.” Al-Ahzab 21 Asy-Syaikh As-Sa’di t “Contoh yang baik adalah Rasulullah n. Orang yang mengambil suri teladan darinya berarti telah menempuh suatu jalan yang akan menyam-paikan kepada kemuliaan Allah I. Inilah jalan yang lurus.” Al-Imam Al-Barbahari t “Ketahui-lah –semoga Allah I merahmatimu–, sungguh tidaklah muncul kezindiqan, kekufuran, keraguan, bid’ah, kesesatan, dan kebingungan dalam agama kecuali akibat ilmu kalam, ahli ilmu kalam, debat, berbantahan, dan perselisihan.” Syarhus Sunnah, hal. 93 Ibnu Rajab t berkata “Mengikuti ocehan ahli ilmu kalam dan filsafat merupakan kerusakan yang nyata. Tak sedi-kit orang yang mencoba menyelami perkara itu akhirnya berlumuran dengan berbagai kotorannya, sebagaimana ucapan Al-Imam Ahmad Tidaklah orang yang melihat ilmu kalam kecuali akan terpengaruh dengan Jahmiyyah’. Beliau dan para ulama salaf lainnya selalu memperingatkan dari ahli ilmu kalam walaupun ahli ilmu kalam itu berniat membela As-Sunnah.” Fadhlu Ilmis Salaf alal Khalaf, hal. 43 Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah berkata “Ilmu kalam –yang telah disepakati Al-Imam Malik, Abu Hani-fah, Ahmad, dan Asy-Syafi’i sebagai suatu yang bid’ah– tidak akan mungkin menjadi penjaga aqidah dari berbagai bid’ah. Karena ilmu kalam itu sendiri adalah bid’ah.” Abu Hamid Al-Ghazali Aqida-uhu wa Tashawwufuhu hal. 9 Sungguh malang nasib pengagum ilmu kalam. Na’udzubillahi min dzalika Kita berlindung kepada Allah I dari hal itu. 3. Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua bagian a. Ilmu dhahir ilmu muamalah. b. Ilmu batin ilmu kasyaf. Ihya` Ulumiddin, 1/19-21 Keyakinan bahwa ilmu kasyaf merupa-kan puncak ilmu merupakan hal yang umum di kalangan para Shufi! Kasyaf menurut keyakinan Shufi adalah tersingkap-nya hijab di hadapan para wali Shufi, sehingga dia bisa melihat dan mengetahui sesuatu yang ghaib tanpa melalui indera perasa. Namun ilmu kasyaf adalah ilmu yang terilhamkan dalam hati. Ash-Shufiyah wa Taatstsu-ruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 114 Sungguh menakutkan keadaan mere-ka. Bukankah Allah I telah berfirman “Katakanlah tidak ada siapapun yang ada di langit dan di bumi yang mengetahui suatu yang ghaib selain Allah.” An-Naml 65 “Dialah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan tidak menampakkannya kepada siapapun, kecuali kepada utusan-Nya yang telah Dia ridhai. Sesungguhnya Dia memberikan penjagaan dengan para malaikat dari depan dan belakangnya.” Al-Jin 26-27 Ibnu Katsir t berkata “Sesungguh-nya Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dan sungguh tidak ada makhluk-Nya yang bisa mengetahui ilmu-Nya kecuali yang Allah I beritahukan kepadanya.” Tafsir Ibnu Katsir, 4/462 Rasulullah n bersabda “Ada lima perkara yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.” Kemudian beliau membaca ayat “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Luqman 34 [HR. Ahmad, 5/353. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Shahihul Jami’, 6/361] Ibnu Hajar t berkata “Ilmu ghaib merupakan sifat khusus bagi Allah I. Dan segala perkara ghaib yang Nabi n kabarkan merupakan sesuatu yang dikabarkan Allah I kepadanya. Dan tidaklah beliau mengeta-hui dari dirinya sendiri.” Fathul Bari, 9/203 Adanya keyakinan kasyaf merupakan upaya penghinaan kepada Allah I. 4. Penafsiran ayat secara ilmu batin dan keluar dari kaedah-kaedah salaf. Seba-gai contoh Al-Ghazali menafsirkan firman Allah I “Dan jauhkan aku serta keturunanku dari penyembahan terhadap berhala.” Ibrahim 35 Al-Ghazali menyatakan bahwa yang dimaksud berhala adalah dua batu, yaitu emas dan perak! Ihya` Ulumiddin, 3/235 Cara seperti ini merupakan tipudaya setan, karena hanya akan menjadikan seseorang keluar dan menyeleweng dari pemahaman salafush shalih. Allah I berfirman “Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ali Imran 31 “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami jadikan ia di Jahannam. Dan Jahannam adalah sejelek-jelek tempat kembali.” An-Nisa 115 Ilmu batin menurut Shufiyyah adalah rahasia-rahasia ilmu yang ganjil, dan hanya diketahui oleh orang-orang Shufi yang berbicara dengan lisan yang abadi. Majmu’ Fatawa, 13/231 Keadaan ini menyerupai orang-orang bathiniyyah Qaramithah yang menafsirkan Al-Quran secara ilmu batin, seperti shalat berarti doa, puasa berarti menahan rahasia, haji bermakna safar dan berkunjung kepada guru serta para syaikh. Majmu’ Fatawa, 13/236 5. Al-Ghazali terpengaruh dengan suluk orang-orang Cina dan kependetaan dalam Nasrani. IhyaUlumiddin, 3/334 Ia berkata “Upaya para wali dalam penyucian, pencerahan, kebersihan, dan keindahan jiwa sehingga suatu kebenaran menjadi gemerlap, nampak dan bersinar sebagaimana dilakukan orang-orang Cina. Dan demikianlah upaya kaum cendekiawan dan ulama untuk meraih dan menghiasi ilmu, sehingga terpatri indah dalam hati sebagaimana yang dilakukan orang-orang Romawi.” Ihya Ulumiddin, 3/24 Bahkan hubungan manis antara Shufiyyah dengan Nasrani dinyatakan Ibrahim bin Adham. Ia berkata “Aku mempelajari ma’rifat dari seorang pendeta bernama Sam’an dan aku pernah masuk ke dalam tempat ibadahnya.” Talbis Iblis, hal. 137 Abdurrahman Al-Badawi berkata “Sungguh, kalangan Shufiyyah dari kaum Muslimin menganggap tidak mengapa untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran para pendeta dan perihal olah batin mereka karena terdapatnya faedah, walaupun hal itu datang dari Nasrani. Ash-Shufiyyah wa Taatstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 64 Anggapan seperti ini sangatlah naif, dan hanya akan melumpuhkan serta menelanjangi seseorang dari al-wala wal-bara`. Allah I berfirman “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” Al-Hasyr 19 “Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” Al-Jatsiyah 18 Rasulullah n bersabda “Benar-benar kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang sebelum kalian…” HR. Al-Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669 “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka.” HR. Abu Dawud, 2/74. Dan dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adabuz Zifaf hal. 116 Bahkan Rasulullah n dengan jelas menyatakan “Tidak ada kependetaan dalam Islam.” Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 4/7 Sungguh perilaku Shufiyyah merupa-kan virus pluralisme yang akan selalu bergulir seperti bola liar dengan kemerdekaan berfikir tanpa batas freedom of thinking is every-thing. 6. Menurut Al-Ghazali, martabat kenabian bisa diraih seorang Shufi dari sisi turunnya ilham Ilahi di dalam hatinya. Ihya, 3/18-19 Menurut para Shufi, ilham adalah pancaran ilmu kepada para syaikh dan wali dari Allah I, yang tercurahkan dalam hati, yang bisa didapatkan baik saat terjaga ataupun tidur, sehingga terbukalah rahasia ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh. Hal ini terkadang mereka namakan ilmu laduni, yang tidak akan berakhir seperti berhentinya wahyu kepada para nabi. Ash-Shufiyah wa Taatstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 114-115 Bahkan Al-Ghazali berkata “Sesung-guhnya hati, di hadapannya siap tergelar hakekat sesuatu yang haq dalam semua urusan. Bahkan tercurahkan segala bentuk yang rahasia dan tersingkap dengan mata hati, menjadikan apa yang tertulis di Lauhul Mahfuzh terpampang, sehingga bisa mengetahui apa yang akan terjadi.” Kemudian beliau menambahkan “Berbagai urusan tersingkap bagi para nabi dan wali. Dan suatu cahaya tertuang dalam hati mereka yang didapatkan tanpa belajar, mengkaji, menulis, dan buku-buku, yang diraih dengan zuhud di dunia. IhyaUlumiddin, 3/18-19 Beliau juga berkata “Sesungguhnya ilmu-ilmu yang didapatkan para nabi dan wali itu melalui pintu batin atau melalui hati, dan melalui pintu yang terbuka dari alam malakut/ Lauhul Mahfuzh.” Ihya Ulu-middin, 3/20 Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah berkata “Perkataan Al-Gha-zali tentang kenabian merupakan kepan-jangan tangan Ibnu Sina yang menganggap bahwa para nabi memiliki tiga kekuatan kekuatan kesucian, kekuatan khayalan, ke-kuatan perasaan dan batin.” Abu Hamid Al-Ghazali Aqidatuhu wa Tashaw-wufuhu hal. 35 Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyah menukilkan ucapan Al-Ghazali dalam kitab Al-Jawahirul Ghali “Tidak ada perbedaan sedikitpun antara wahyu dan ilham, bahkan dalam kehadiran malaikat yang memberikan faedah ilmu. Sesungguh-nya ilmu didapatkan dalam hati kita dengan perantara para malaikat.” Abu Hamid Al-Ghazali Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 38 Ibnu Taimiyyah t berkata “Sesung-guhnya yang terkandung dalam ucapan mereka adalah bahwa berita-berita dari Rasulullah n tidaklah berfaedah sedikitpun dalam sisi ilmiah. Bahkan hal yang seperti itu bisa diraih oleh setiap orang dengan musyahadah1, nur, dan kasyaf.” Daru Ta’arudhil Aql wan Naql, 5/347 Al-Ghazali bahkan menghina para fuqaha dengan ucapannya “Para fuqaha hanyalah sekedar ulama dunia dan tugas mereka tidak lebih dari itu.” Ihya Ulumiddin, 1/18 Ibnul Jauzi t berkata “Kebencian-nya kepada para fuqaha merupakan kezindiqan terbesar. Karena para fuqaha selalu menghadirkan fatwa-fatwa tentang kesesatan dan kefasikan mereka. Dan sungguh al-haq itu berat sebagaimana beratnya zakat.” Talbis Iblis hal. 374 Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyyah berkata “Fiqih merupakan suatu upaya untuk membenahi sesuatu yang dhahir dan yang batin. Allah I berfirman “Akan tetapi orang-orang munafiq tidaklah memahami.” Al-Munafiqun 7 Jikalau hati-hati mereka bersih dan tercermin dalam dhahir-dhahirnya, sungguh mereka adalah orang yang memahami. Ingatlah pemimpin para fuqaha, Ibnu Abbas c yang didoakan oleh Nabi n Ya Allah, fahamkanlah dia dalam urusan agama’.” Abu Hamid Al-Ghazali Aqida-tuhu wa Tashawwufuhu hal. 45 Perilaku Shufiyyah merupakan pintu kesombongan, kecongkakan dan sikap ekstrim dalam memposisikan diri mereka. Mereka telah melupakan Rasulullah n sebagai seorang nabi yang membawa kesempurnaan syariat dan akhlak yang mulia. Allah I berfirman “Hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian dan telah Aku sempurnakan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” Al-Ma`idah 3 “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” Ali Imran 164 7. Tentang ajaran wihdatul wujud, Al-Ghazali berkata menyebutkan tingkatan orang-orang shiddiqin “Mereka adalah segolongan kaum yang melihat Allah I dalam keesaan-Nya. Dengan-Nya, mereka melihat segala sesuatu. Dan tidaklah mereka melihat dalam dua tempat selain dari-Nya, dan tidaklah mereka memperhatikan alam wujud selain Dia. Inilah memperhatikan de-ngan pandangan tauhid. Hal ini meng-ajarkan kepadamu bahwa yang bersyukur adalah yang disyukuri. Dan dia adalah yang mencintai dan yang dicintai2. Inilah pan-dangan seseorang yang mengetahui bahwa tidaklah ada di alam yang wujud ini melainkan Dia.” IhyaUlumiddin, 4/86 Bahkan terdapat keterikatan yang kuat antara Al-Ghazali dan Al-Hallaj yang meyakini aqidah wihdatul wujud, bahkan sebagai puncak dari tauhid. Ihya Ulumiddin, 4/247 Ibnu Taimiyyah t berkata memban-tah keyakinan yang bejat ini “Para salaf mengkafirkan Jahmiyah karena perkataan mereka bahwa Allah I berada di semua tempat. Di antara bentuk pengingkaran para salaf adalah Bagaimana mungkin Allah I berada di perut, di tempat-tempat kotor, di tempat-tempat sunyi? Maha Tinggi Allah dari perkara tersebut! Lalu bagaimana-kah dengan mereka yang menjadikan perut, tempat-tempat kotor, tempat-tempat sunyi, barang-barang najis, dan kotoran-kotoran sebagai bagian dari Dzat-Nya?” Majmu’ Fatawa, 2/126 Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah I ber-istiwa` di atas Arsy dan Allah I tidak membutuhkan Arsy. Dan Allah I tidaklah serupa dengan makhluk dalam segala sifat-Nya. Allah I berfirman “Ar-Rahman ber-istiwa` di atas Arsy.” Thaha 5 “Sesungguhnya Rabb kalian telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian ber-istiwa` di atas Arsy.” Yunus 3 “Tidaklah Allah serupa dengan apapun dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Asy-Syura 11 8. Ajaran khalwat atau menyendiri dan menyepi, dan kesalahan dalam memahami uzlah. Al-Ghazali berkata “Dalam uzlah menyingkir dan menjauhi umat, ada jalan keluar kedamaian. Adapun dalam ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar akan meninggalkan perselisihan dan membangkit-kan kedengkian hati. Dan siapapun yang mencoba beramar ma’ruf niscaya keba-nyakannya akan menyesal.” IhyaUlumiddin, 2/228 Bahkan dengan khalwat akan tersing-kap kehadiran Rabb dan nampak baginya Al-Haq. Ihya Ulumiddin, 3/78 Syarat-syarat khalwat menurut kaum Shufi q Meminta bantuan dengan ruh para syaikh, dengan perantara gurunya. q Menyibukkan diri dengan dzikir sehingga nampak Allah I baginya. q Bertempat di ruangan yang gelap dan jauh dari suara serta gerakan manusia. q Tidak berbicara. q Tidak memikirkan kandungan makna Al-Quran dan hadits, karena akan menyibukkan dari dzikir yang sebenarnya. q Tidak boleh masuk dan keluar dari tempat khalwat kecuali dengan izin dari syaikhnya. q Selalu mengikat hati dengan mengingat syaikh. Ash-Shufiyah wa Taatstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 186 Ini merupakan amalan-amalan yang akan menguburkan nilai-nilai agama yang suci, akibat salah memahami uzlah dan upaya meniru gaya kependetaan. Makna uzlah bukanlah khalwat ala Shufiyyah yang rancu. Maknanya adalah menjauhi suatu fitnah agar tidak menimpa-nya, baik itu di dalam rumah ataupun di suatu tempat, yang apabila telah hilang fitnah tersebut maka dia kembali melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, berdakwah, dan berjihad di jalan-Nya. lihat Ash-Shufiyyah wa Taatstsuruha bin Nashraniyyah wal Yahudiyyah, hal. 188 Suatu fitnah harus dihadapi dengan ilmu dan bimbingan yang benar, bukan dengan sikap emosional atau mengekor pola-pola orang kafir. baca kitab Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan 9. Al-Ghazali lebih mengutamakan as-sama’ mendengarkan nasyid dan dendang kerohanian daripada membaca Al-Quran. Setelah menceritakan keutamaan as-sama’, beliau berkata “Dan apabila hati telah terbakar mabuk dalam kecintaan kepada Allah I, maka untaian bait syair yang aneh akan lebih membangkitkan sesuatu yang tidak bisa dibangkitkan dengan membaca Al-Quran.” IhyaUlumid-din, 2/301 Keganjilan kaum Shufi ini merupakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan para shahabat. Ibnu Taimiyyah t berkata “Berkumpul untuk mendengarkan dendang-an-dendangan rohani baik yang diiringi tepuk tangan, dawai, ataupun rebana, merupakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan para shahabat, baik Ahlush Shuffah atau yang lainnya. Demikian pula para tabi’in tidak pernah melakukannya.” Majmu’ Fatawa, 11/57 Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata “Tidaklah aku tinggalkan Baghdad kecuali telah muncul at-taghbir dendang kero-hanian yang dibuat orang-orang zindiq, yang hanya menghalangi manusia dari Al-Quran. Dan Yazid bin Harun berkata “Tidaklah melakukan at-taghbir kecuali orang fasiq.” Majmu’ Fatawa, 11/569 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata “Orang yang membiasakan men-cari semangat dengan as-sama’ niscaya tidak akan lembut dan senang hatinya dengan Al-Quran. Dan dia tidak akan mendapatkan apapun saat mendengarkan Al-Quran sebagaimana ketika mendengarkan bait-bait syair. Bahkan apabila mendengarkan Al-Qur`an, dia akan mendengarkan dengan hati dan lisan yang lalai.” Majmu’ Fatawa, 11/568 Orang-orang Shufi telah melupakan firman Allah I “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah apabila diingatkan tentang Allah maka hati-hati mereka bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka.” Al-Anfal 2 “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah hati akan tenang.” Ar-Ra’d 28 10. Kesalahan yang fatal dalam memahami makna tawakkal, sehingga menghilangkan sebab yang harus ditempuh. Al-Ghazali berkata “Telah diceritakan dari Banan Al-Hammal Suatu hari saya dalam perjalanan pulang dari Mesir, dan saya membawa bekal keperluanku. Datanglah kepadaku seorang wanita dan menase-hatiku Wahai Banan, engkau adalah tukang pembawa yang selalu membawa bekal di punggungmu dan engkau menyang-ka bahwa Dia tidak memberimu rizki?’ Banan berkata Maka aku buang bekalku’.” IhyaUlumiddin, 4/271 Hal ini sangatlah berseberangan dengan bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah. Allah I berfirman “Hendaknya kalian mengambil bekal, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” Al-Baqarah 197 Asy-Syaikh As-Sa’di t berkata “Allah I memerintahkan untuk membawa bekal bagi safar yang mubarak diberkahi ini yakni haji. Sesungguhnya persiapan bekal akan mencukupinya dan bisa mencegah dari harta orang lain, tidak mengemis dan meminta bantuan. Bahkan dengan memperbanyak bekal akan bisa menolong para musafir.” Kemudian beliau berkata “Adapun bekal yang hakiki yang akan terus bermanfaat di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, inilah bekal untuk menuju rumah abadi.” Taisirul Karimirrahman hal. 74 Al-Ghazali berkata “Barangsiapa menyimpan persediaan makanan untuk 40 hari atau kurang dari itu, maka akan terharamkan dari al-maqam al-mahmud kedudukan terpuji yang dijanjikan kepada orang yang bertawakkal di akhirat kelak.” IhyaUlumiddin, 4/276 Al-’Iraqi berkata setelah menyebutkan hadits bahwa Rasulullah n mempersiapkan makanan untuk keluarganya selama satu tahun yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari “Apakah Rasulullah n telah keluar dari tingkatan orang-orang yang berta-wakkal, sebagaimana yang diterangkan Al-Ghazali dalam manhajnya yang rusak dalam masalah tawakkal?” Abu Hamid Al-Ghazali Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 79 Bahkan ketika orang-orang Nasrani menyerbu negeri Baghdad, ia lebih memilih untuk ber-khalwat daripada berjihad. Abu Hamid Al-Ghazali Aqidatuhu wa Tashawwufuhu hal. 89 11. Menjauhi suatu yang fitrah, bahkan yang diperintahkan Rasulullah n, seperti nikah. Al-Ghazali berkata “Barangsiapa menikah maka sungguh dia telah cenderung kepada dunia.” Ihya Ulumiddin, 3/101 Hal ini sangat menyelisihi sabda Rasulullah n “Menikahlah kalian, sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya umat dari kalian, dan janganlah kalian meniru kependetaan Nasrani.” Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4/385, hadits no. 1782. Beliau mengatakan hadits ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/78 Peringatan Ulama Salaf terhadap Kitab IhyaUlumiddin3 Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Abdur-rahman Alusy Syaikh berkata “Di dalam kitab Ihya, beliau yakni Al-Ghazali menu-lis dengan metode filsafat dan ilmu kalam dalam banyak pembahasan yang berkaitan dengan permasalahan ketuhanan dan teologi, serta membingkai filsafat dengan syariat. Ibnu Taimiyyah berkata Namun Abu Hamid telah memasuki ruang lingkup ilmu filsafat dalam banyak hal, yang Ibnu Aqil menyatakan ilmu filsafat sebagai bagian dari zindiq’. Ibnul Arabi, murid Al-Ghazali mengatakan “Guru kami Abu Hamid telah masuk dalam cengkeraman ilmu filsafat, dan beliau ingin melepaskannya namun tidak berhasil.”4 Abu Ali Ash-Shadafi berkata “Syaikh Abu Hamid terkenal dengan berbagai berita buruk dan memiliki karya yang besar. Beliau sangat ekstrim dalam tarekat Shufiyyah dan mencurahkan waktunya untuk membela madzhabnya, bahkan menjadi penyeru dalam Shufiyyah. Beliau mengarang berba-gai tulisan yang terkenal dalam hal ini dan membahasnya dalam berbagai tempat, sehingga mengakibatkan umat berburuk sangka kepadanya. Sungguh Allah Yang Maha Tahu rahasianya. Dan penguasa di tempat kami di negeri Maghrib –berdasarkan fatwa para ulama– telah memerintahkan untuk membakar dan menjauhi karyanya.” Adz-Dzahabi berkata “Karyanya ini penuh dengan musibah yang sungguh sangat tidak menyenangkan.” Ahmad bin Shalih Al-Jaili “Al-Ghazali adalah seorang yang fatwa-fatwa-nya terbangun dari sesuatu yang tidak jelas. Di dalamnya banyak riwayat-riwayat yang dicampuradukkan antara sesuatu yang tsabit/jelas dengan yang tidak tsabit. Demi-kian pula apa yang dia nisbatkan kepada para ulama salaf, tidak mungkin untuk dibenarkan semuanya. Ia juga menyebutkan berbagai kejadian-kejadian para wali dan renungan-renungan para wali sehingga mengagungkan posisi mereka. Ia mencam-purkan sesuatu yang manfaat dan yang berbahaya.” Abu Bakr Ath-Thurthusi berkata “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya` dengan berbagai kedustaan atas nama Rasulullah n. Dan tidaklah ada di atas bumi yang lebih banyak kedustaan darinya, sangat kuat keterikatannya dengan filsafat dan risalah Ikhwanush Shafa, yaitu segolongan orang yang menganggap bahwa kenabian adalah sesuatu yang bisa diraih manusia biasa dan mu’jizat hanyalah halusinasi dan khayalan.” Semoga Allah I selalu menjaga kita dari tipu daya, kesesatan dan makar setan. Wallahu a’lam. 1 Musyahadah menurut kalangan Shufi adalah melihat kehadiran Allah I yang kemudian memberikan/membuka rahasia-rahasia-Nya kepada hamba-Nya. 2 Maksudnya dia telah bersatu dengan Allah, sehingga tidak lagi terpisah antara dia dengan Allah. 3 Diambil dari kitab At-Tahdzirul Mubin min Kitab Ihya` Ulumiddin karya Asy-Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman Alusy Syaikh 4 Tentang akhir kehidupan Al-Ghazali, Ibnu Taimiyyah t mengatakan “…Oleh karena itu, menjadi jelas baginya Al-Ghazali, ed di akhir hayatnya bahwa jalan tasawuf tidaklah menyampaikan kepada tujuannya. Kemudian ia mencari petunjuk melalui hadits-hadits Nabi n. Mulailah ia menyibukkan diri dengan Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dan ia meninggal di tengah kesibukannya itu, dalam keadaannya yang paling baik. Beliau juga membenci apa yang terdapat dalam bukunya berupa perkara-perkara semacam itu, yaitu perkara yang diingkari oleh orang-orang.” Aqidah Asfahaniyyah, hal. 108, ed Sumber Artikel Dengan Judul Aslinya Mengurai Kesesatan Ihya’ Ulumuddin Selamat menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya & sebenar-benarnya.
Kitabbidayatul mujtahid adalah kitab fiqh Analisis para Mujtahid karangan Imam Ibnu rusyd kitab Fiqh perpaduan dasar Al-qu'an dan Al-hadits serta logika anda bisa download kitab bidayataul mujtahid karangan ibnu rusyd disini, silahkan anda download secara gratis , langsung saja bro download Kitab Bidayatul Mujtahid 1 dan Kitab Bidayatul Mujtahid 2
KisahTaubatnya Orang yang Mengingkari dan Ingin Membakar Kitab Ihya’ Ulumiddin Siapa yang tidak kenal dengan kitab Ihya’ Ulumiddin?Kitab fenomenal karya hujjatul islam Imam Ghazali ini sangat dikenal di seantero negeri. di pesantren-pesantren salaf, kitab ini menjadi rujukan dan kajian utama dan “makanan” sehari-hari para santri. Di kalangan ulama
DownloadKitab Terjemah Ihya Ulumuddin jilid 4 Lengkap. apk 9.9 for Android. Translation of the Book of the Arab Ihya Ulumuddin volume 4 Latin Complete yang terkandung dalam hadits yang menerangkan sendi-sendi Islam, yaitu sabda Nabi صلى الله عليه وسل: "Didirikan Islam atas lima sendi : Kitab Kumpulan Kisah Abu Nawas Kitab
21February 2021. in DOA DAN DZIKIR. 0. Diantara Bacaan Doa Yaumiyah yaitu yang disebut dengan Musabi’at Al ‘Usyra (10 Doa yang dibaca 7 kali setiap hari), dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin: Surat Al Fatihah – 7x, Surat An Nas – 7x, Surat Al Falaq – 7x, Surat Al Ikhlas – 7x, Surat Al Kafirun – 7x,
BeliKitab Petunjuk Hikayat-hikayat Dalam Kitab Ihya Ulumuddin (Bagian-1) di assikha wal afiyah. Promo khusus pengguna baru di aplikasi Tokopedia! Download Tokopedia App. Tentang Tokopedia Mitra Tokopedia Mulai Berjualan Promo Tokopedia Care. Kategori. Masuk Daftar. jas hujan eiger sepatu putih gift box
.