🐆 Belajar Tanpa Guru Bagaikan

BelajarMenulis di Blog itu mengasikkan, tanpa ada perintah dari-Nya. Alam semesta mengembang. Lalu cahaya tetap pada kecepatannya. Aceh. Bekerja sebagai PNS guru Seni Budaya di MTsN 5 Pidie. Sebelum nya ia juga pernah bekerja sebagai guru di SMK N 1 Mesjid Raya Aceh Besar (2014-2019) dan Dosen di ISBI Aceh (2015-2017).
Anggota komunitas turut berpartisipasi dalam pembentukan aturan dan ekspektasi dari edukasi ini. Sekolah juga tidak mewajibkan kehadiran. Summerhill pada usianya yang hampir ke-100 tahun telah meluluskan banyak siswa. Siswa tak hanya belajar dasar-dasar edukasi saja, tetapi juga bidang akademik lainnya. Mereka mempelajari pelajaran hingga lulus tanpa ada keterpaksaan. Setiap manusia, termasuk anak-anak, memiliki caranya sendiri dalam menangkap pelajaran dan bagaimana mereka menerapkan pelajaran ke dalam kehidupan secara alami. Secara alami, mereka akan mengetahui cara memecahkan kemampuan alami manusia untuk belajar ini ditumpulkan dengan beragam aturan yang memaksa. Terkadang metode pembelajaran seperti ini tidak lagi dipandang mudah dan efektif bagi masing-masing individu. Meskipun di Indonesia memiliki sistem pembelajaran yang sudah ditetapkan secara nasional, orangtua dan guru perlu memberikan dukungan penuh untuk anak. Mengajari anak tanpa memaksa, tak ada salahnya kok Perlu orangtua ketahui bahwa anak-anak secara biologis diprogram untuk belajar. Pembelajaran dimulai ketika ia berada di masa kanak-kanak. Anak akan membutuhkan banyak informasi sebagai bekal untuk bertahan hidup dan berkembang ketika ia beranjak dewasa. Mungkin Anda tak bisa menghindarkan anak-anak untuk belajar menulis, membaca, atau matematika. Memang membutuhkan banyak usaha dan pelatihan intensif sehingga mereka mengerti pelajaran dasar tersebut. Orangtua sebaiknya tak perlu berekspektasi tinggi dalam mengajarkan anak. Karena proses tempuh setiap anak berbeda. Namun, ingatlah untuk mengajari anak tanpa memaksa. Ketika mengajarkan anak, orangtua maupun guru perlu kesabaran penuh. Beritahu anak untuk mencoba menyelesaikan apa yang dikerjakan. Jika mereka melakukan kesalahan saat belajar, tetap arahkan mereka untuk berpikir hingga menemui solusi atau hasil akhirnya. Meskipun sebagai pembelajar alami, anak masih tetap membutuhkan peran orangtua dan guru. Ingatkan bahwa anak menemukan kesulitan saat belajar, jangan takut untuk meminta bantuan orangtua atau guru. Bagaimanapun komunikasi penting sebagai bentuk pembelajaran anak. Sehingga pada masa yang akan datang, mereka memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikannya. Anak akan lebih mudah mencerna ketika orangtua atau guru mengajari mereka tanpa memaksa. Ketahuilah bahwa tiap anak memiliki kecepatan dan kemampuan belajar yang berbeda. Terkadang tekanan dalam belajar membuatnya mudah stres, sehingga ia sulit mengerti pelajaran yang diterimanya. Oleh karenanya, anak membutuhkan suasana yang rileks, tenang, dan santai dalam kegiatan belajarnya. Dukungan suasana juga membantu mereka menangkap pelajaran yang diterimanya. Sebagai pendamping, perlu diingat setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda. Pujilah ketika ia berhasil melakukan pencapaian apapun hasilnya. Pendamping menjadi agen motivasi anak lebih maju. Maka itu, penting untuk mengajari anak tanpa memaksa. Tips mendidik anak tanpa memaksa Mengajari anak tanpa memaksa mendukung ia berpikir jernih ke depan dalam menghadapi masalah dan mencari solusi. Orangtua sebagai pendamping bertugas memotivasi anak. Dukungan orangtua bisa menjadi kekuatan anak untuk mencapai tujuannya. Berikut tips mendidik anak yang bisa Anda terapkan. 1. Pahami kekuatan anak Sebagai orangtua, Anda perlu mengetahui kekuatan dan kelebihan anak terhadap hal yang disukainya. Kemudian, cobalah memotivasinya untuk melakukan tantangan selanjutnya. Misalnya, ketika anak suka menulis cerita, motivasi ia untuk mengikuti lomba menulis cerpen. Kemudian dukung ia untuk menulis buku kumpulan cerpen dari hasil karya yang telah ia buat. 2. Tetap di samping anak ketika ia gagal Mengajari anak tanpa memaksa bisa dilakukan dengan memberikannya semangat sehingga ia tetap berkomitmen dengan melakukan hal yang menjadi kelebihannya. Terkadang jalan hidup tidak semulus yang dibayangkan. Saat anak berusaha menjalani hal yang disukainya, pada satu waktu ia gagal. Misalnya, anak hobi menari balet. Pada masanya ia pentas, anak terjatuh di atas panggung. Sementara penonton yang lain tertawa dan teman-temannya pun mengejeknya. Tetaplah berada di sampingnya dan bangun semangat dan kepercayaan dirinya, besarkan hatinya. Saat ia gagal, cobalah katakan “Tidak apa-apa, Nak. Kamu sudah lakukan yang terbaik. Ke depannya Ibu/Ayah yakin kamu bisa. Kita hadapi bersama, jangan takut ya.” 3. Pujilah anak atas pencapainnya Setelah beragam proses yang dilalui anak, pujilah anak pada tiap pencapaiannya. Pujian menumbuhkan kepercayaan diri anak untuk tetap maju dan berkembang. Pencapaiannya tak mudah, karena anak melalui proses belajar yang melelahkan dan tak mudah. Cara sederhana ini dapat Anda lakukan sebagai langkah mengajari anak tanpa memaksa.
\n \n belajar tanpa guru bagaikan
belajaripa konsep struktur tumbuhan pada siswa kelas V SD Mattirowalie Kabupaten Barru. Desain penelitian yang digunakan adalah One-Group Pretes-Posttest Design, yaitu sebuah eksperimen yang dilaksanakan tanpa adanya kelas pembanding (kelas control) dan mempunyai tes awal dan tes akhir. Populasi penelitian ini adalah seluruh murid kelas V SD loading...Bahaya belajar ilmu agama tanpa guru dapat menyebabkan pemahaman yg keliru. Foto/dok tanyajawabfikih Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimah sejak dari ayunan hingga liang lahat. Demikian pesan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin hadis lain diterangkan "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga." Keutamaan penuntut ilmu tholabul 'ilm ini juga mendapat ganjaran mulia dari Allah. "Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi pencari ilmu karena senang dengan apa yang dilakukannya."Pertanyaannya, bagaimana jika menuntut ilmu tanpa guru? Di zaman daring dalam jaringan saat ini banyak kita temui orang-orang berlajar sendiri tanpa guru. Bahkan, baru sedikit membaca buku dan belajar lewat Youtube, sudah berani berbicara di depan publik menjelaskan tentang hukum yang sesuai pemahamannya. Bukan dari pemahaman ilmu yang dipelajarinya dari guru-gurunya sanad. Habib Quraisy Baharun dalam satu tausiyahnya mengingatkan agar ilmu agama dipelajari dengan berguru, agar tidak salah paham atau pemahamannya salah."Sering kita dengar ungkapan, barangsiapa yang belajar tanpa guru, maka setan adalah gurunya. Kalimat ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab tasawuf dan tarekat. Ini disebabkan karena Ilmu Syari’at seperti ilmu Fiqih, Tauhid, ilmu tasawuf dan tarekat adalah ilmu yang mengajarkan cara-cara dan kaidah-kaidah seorang hamba berhubungan dengan Allah," terang Dai lulusan Hadhramaut Yaman ini. Kalimat ini diungkapkan oleh ulama tasawuf Imam Abu Yazid Al-Busthami wafat 874 Mمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أُسْتَاذٌ فَإِمَامُهُ الشَّيْطَانُ"Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka imamnya adalah setan."Sementara redaksi lain ditemukan dalam Tafsir Ruh Al-Bayan, karya Isma’il Haqqi Al-Hanafi wafat 1715 Mمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ"Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka gurunya adalah setan."Dengan demikian, seseorang tidak bisa mengamalkan ajaran-ajaran tasawuf atau tarekat bila tanpa bimbingan guru atau mursyid. Jika tidak, maka ia akan tersesat dan kehilangan arah. Ulama Tarekat Syadziliyah Syekih Ali bin Wafa wafat 1405 M mengatakan bahwa siapa pun yang menginginkan kesempurnaan tanpa melalui guru dan pembimbing, maka ia telah salah menempuh jalan. Ulama hadis Syeikh Abdurrahman bin Yazid bin Jabir wafat 770 M berkataلَا يُؤْخَذُ الْعِلْمُ إلَّا عَمَّنْ شُهِدَ لَهُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ"Ilmu tidak diambil kecuali dari orang yang disaksikan bahwa ia mencari ilmu bukan dari orang-orang yang tidak diketahui pernah mencari ilmu."Seseorang yang ingin mempelajari lmu dunia, maka kebutuhan untuk belajar dengan seorang guru hukumnya relatif, tergantung pada subjek pengetahuan yang Quraisy menjelaskan, untuk ilmu-ilmu non-syariat, misalnya, pendidikan modern hari ini telah menyusun sistem pendidikannya dengan tujuan peserta didik memiliki kompetensi pengetahuan, kompetensi sikap, dan kompetensi keterampilan. Karena itu, mereka diharuskan untuk bersekolah atau mengikuti pelatihan yang di dalamnya terdapat guru dan pelatih hingga ia dinyatakan lulus dan kompeten. Jika tidak, maka keilmuannya dalam konteks ini akan diragukan dan demikian, terkait ilmu-ilmu non-syariat ilmu-ilmu duniawi seseorang boleh mempelajarinya tanpa guru selama ilmu itu bukanlah ilmu yang membutuhkan keahlian khusus, tidak berdampak langsung pada keselamatan jiwa manusia, dan mengharuskan adanya guru atau pembimbing. Guruitu bukan cuman sebagai pendidik, melainkan pembimbing, pendidik itu hanya mendidik dan mengajarkan ilmunya yang dia punya kepada muridnya, tanpa membimbingnya. Nah pembimbing itu mengajarkan sekaligus menghantarkannya masuk dan melewati gerbang kesuksesan. Seorang guru yang baik adalah mengajarkan muridnya tidak hanya bergantung Mempelajari agama Islam merupakan kewajiban bagi setiap pemeluknya. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah telah banyak menunjukkan tentang wajibnya ibadah yang satu ini. Hari ini setiap orang yang ingin mempelajari Islam dapat dengan mudah melakukannya. Kemajuan dunia teknologi dan berkembangnya dunia tulis-menulis khususnya buku-buku agama Islam membuat setiap orang bisa kapan saja dan dimana saja mempelajari agamanya. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan belakangan ini, beberapa orang merasa cukup untuk belajar dari buku-buku dan tulisan-tulisan yang beredar di berbagai media, tanpa perlu bimbingan seorang guru. Apakah hal ini tepat bagi seorang muslim dalam mempelajari agama-Nya, khususnya para penuntut ilmu ? Simak paparan berikut Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Kitabul Ilmi menjelaskan bahwa seseorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan. Seseorang yang memiliki guru akan memperoleh beberapa manfaat, diantaranyaMenemukan metode yang mudah dalam belajar. Dia tidak perlu bersusah payah memahami sebuah kitab untuk melihat apa pendapat yang paling kuat dan apa sebabnya, demikian pula apa pendapat-pendapat yang lemah dan alasannya. Ketika seseorang memiliki guru, maka guru itu yang akan mengajarinya dengan metode yang lebih mudah. Guru itu akan menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu, manakah pendapat yang terkuat beserta dalil-dalilnya. Tidak diragukan lagi, hal ini sangat bermanfaat bagi penuntut cepat paham. Seorang penuntut ilmu jika membaca di hadapan gurunya akan lebih cepat mengerti dibandingkan jika mempelajari sendiri. Jika dia hanya membaca seorang diri, boleh jadi ia akan menemukan istilah-istilah baru yang sulit untuk dipahami dan membutuhkan usaha serta pengulangan yang memakan waktu dan tenaga. Bahkan bisa jadi dia jatuh dalam kesalahan saat memahaminyaAdanya hubungan yang terjalin antara penuntut ilmu dan para ulama. Maka dari itu membaca sebuah buku di hadapan para ulama lebih bermanfat dan lebih utama daripada membacanya kesempatan lain, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya tentang sebuah ungkapan yang berbunyi مَنْ كَانَ شَيْخُهُ كِتَابَهُ فَخَطَئُهُ أَكْثَرْ مِنْ صَوَابِهِ“Barangsiapa yang gurunya adalah bukunya, maka kesalahannya lebih banyak daripada benarnya”.Syaikh mengatakan bahwa perkataan ini tidaklah benar maupun salah secara mutlak. Akan tetapi seseorang yang belajar dari sebuah buku dan orang-orang yang dikenal dengan ilmunya serta dapat dipercaya dalam menyampaikan ilmunya secara bersamaan maka hal ini dapat meminimalisir kesalahan yang terjadi. Wallahu A’lam.***Referensi Kitabul Ilmi, cetakan pertama, tahun 1417 H. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya, Riyadh. Jelang Dzuhur, STAI Ali bin Abi Thalib15 Jumadil Ula 1437 / 24 Februari 2016Penulis Noviyardi AmarullahArtikel Ilmutanpa budi adalah kerapuhan jiwa. Ilmu bagaikan kunci emas kehidupan. Ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta. Kebiasaan menyontek dapat meningkatkan kemalasan dalam belajar. Belajar bukan hanya sekadar untuk mendapatkan nilai yang baik. Ilmu tak akan didapat hanya dengan bermalas-malasan. Pendidikan memunculkan keinginan baru. Ilmu Tanpa Adab Bagaikan – Akhlak merupakan salah satu hal yang dibawa dan diberitakan oleh Rasulullah -Sallallahu alaihi wa sallam- di tengah-tengah umat. Akhlak sangat berpengaruh bagi orang-orang musyrik sehingga banyak dari mereka yang masuk Islam karena melihat akhlak Nabi, Rasul Rahmat, Muhammad -Sallallahu alaihi wa sallam-. Kaum Quraisy yang jahil adalah masyarakat yang memuja binatang, tetapi mereka memiliki akhlak keagungan yang tinggi yang diwarisi dari orang-orang saleh sebelum mereka. Adab Adab Dalam Memberikan Nasehat Akhlak yang dilindungi terlebih dahulu, seperti menjaga kesopanan, amanah, melayani tamu, menghibur jamaah, menjaga silaturahmi, sedekah dan lain-lain. Ketika Nabi -Sallallahu alaihi wa sallam- datang untuk menyelamatkannya dari kemusyrikan, dan dari beberapa penyimpangan akhlak, maka Nabi -Sallallahu alaihi wa sallam- membawa risalah Islam berupa Al-Quran dan As-Sunnah yang isinya sempurna dan terpuji. moral. . Dahulu akhlak terbatas pada batas yang sempit, Rasulullah -Sallallahu alaihi wa sallam- memperluas cakupannya, sehingga meliputi akhlak terhadap Allah -Azza wa Jalla- dan akhlak terhadap makhluk. “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan makarimul akhlaq akhlak mulia”. [SDM. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod 273, Ahmad dalam Al-Musnad 2/381/ Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro 10/191/ Al – Hakim Al-Mustadrok ala Ash Shohihain 4221. Hadits ini dibenarkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ 2349] Kata Mutiara Iman Tanpa Ilmu Bagai Lentera Di Tangan Bayi, Ilmu Tanpa Iman Bagai Lentera Di Tangan Pencuri Sifat batin, misalnya pemalu, berani, dermawan, dermawan, suka membantu, suka melayani kebutuhan orang lain tanpa pamrih, persahabatan. Jadi, akhlaq adalah penampilan batin yang dimiliki seorang hamba ketika berinteraksi dengan orang lain. Moral biasanya disebut “adab” atau “suluk”. Al-Imam Jamaluddin Al-Qosimiy -rahimahullah- menjelaskan bahwa dari luar perbuatan baik tampak sesuai dengan akal dan syariat, sehingga disebut “akhlaq hasanah” atau “akhlaq karimah” akhlak yang terpuji. [Lihat Jawami’ Al-Adab fi Akhlaq Al-Anjaab hal. 138 yang dicetak dalam album buku berjudul “Rosa’il fil Akhlaq”, cet. Dar Al-Bashiroh, Mesir] Allah -Ta’ala- dan Nabi -Sallallahu alaihi wa sallam- ketika memuji akhlak dalam Al-Qur’an dan hadits, yang mereka maksud adalah akhlak KARIMAH. Adab Adab Duduk Dalam Majelis Kebaikan akhlak manusia menjadi alasan masuk surga penuh kebahagiaan. Abu Hurairah – semoga Tuhan meridhoi dia – berkata, عَنْ أَبِيْ حَرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata Wahai Rasulullah, semoga shalawat dan salam lebih dari surga? فَقَالَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ “Apakah Rasulullah -Sallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang banyak hal yang memasukkan manusia ke dalam surga? Lalu beliau bersabda “Taqwa kepada Allah -Ta’ala- dan akhlak yang baik”. 2004 dan Ibnu Majah dalam Sunan 4246.Hadis ini hasan dari Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib no. 1723] “Akhlak yang baik adalah tanda muamalah hubungan yang baik dengan makhluk. Dua hal dewi dan akhlak yang baik adalah dua alasan untuk masuk surga”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy 6/132] Mahfudzot Kelas 1 Kmi Gontor Beserta Syarah Penjelasannya 21 30 “Hamba yang dicintai Allah adalah yang paling baik akhlaknya”. [SDM. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath 471. Dikonfirmasi oleh Syekh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah no. 432] Jika akhlak seseorang baik, maka ia tidak hanya dicintai oleh Allah, tetapi juga dicintai oleh Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam-, dan menjadi orang yang paling dekat dengannya. “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah orang yang berhati baik”. [SDM. At-Tirmidziy dalam Sunan 2018. Hadits ini dibenarkan oleh Syekh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah no. 791] Perilaku yang baik akan dibalas Allah -Ta’ala-, karena bersumber dari iman yang kuat. Keutamaan Menjaga Adab Dalam Menuntut Ilmu, Salah Satunya Mendatangkan Keberkahan “Tidak ada dalam mizan skala yang lebih berat daripada akhlak yang baik”. [SDM. Abu Dawud dalam Sunan No. 4799. Hadits ini dibenarkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah no. 876] Dalam hadits ini terdapat dalil yang menguatkan keyakinan Ahlus Sunnah bahwa mizan timbangan memiliki materi dan bentuk. Al-Allamah Syekh Mar’iy Al-Karmiy -rahimahullah- berkata “Iman yang benar dari pihak Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwa yang dimaksud dengan “mizan” timbangan adalah mizan yang sebenarnya akan datang. th .penjelasan “. [Lihat Tahqiq Al-Burhan fi Itsbat Haqiqoh ​​​​​​​​​​​​Al-Mizan halaman 24] Menentang keberadaan mizan adalah aliran Jahmiyyah, aliran sesat Qodariyyah, sebuah komunitas dari kalangan pendahulu aliran sesat Mu’tazilah yang biasa dikenal dengan aliran “Al-Wazniyyah”. Karakter Sebelum Pintar, Adab Dulu Sebelum Ilmu Halaman 2 Di antara keutamaan-keutamaan itu, Allah akan melipatgandakan pahalanya, sehingga bisa mencapai derajat orang yang suka shalat malam dan berpuasa di siang hari. “Sesungguhnya orang yang berakhlak baik dapat mencapai derajat orang yang shalat malam dan berpuasa di siang hari.” [SDM. Abu Dawud dalam Sunan-nya 4798. ] “Orang yang berakhlak baik hanya mendapatkan keuntungan yang besar ini, bagi orang yang berpuasa dan orang yang sholat malam berdiri di depan jiwanya melawan hawa nafsunya. dan akhlak .akhlak-maka-maka-yang akan dihadapi banyak jiwa. Oleh karena itu, dia akan mencapai apa yang dilakukan oleh orang yang berpuasa dan salat malam. Sehingga keduanya setara, dan bahkan bisa menjadi orang yang lebih baik akhlaknya darinya”. [Lihat Aunul Ma’bud 10/320] Akhlak karimah adalah bekal dan amalan terbaik yang tidak ada sisinya di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Malaikat Meletakkan Sayapnya Untuk Para Penuntut Ilmu “Wahai Abu Dzar, tidakkah kamu ingin aku menunjukkan kepadamu dua atribut, dua yang lebih ringan di punggung dan lebih berat di Mizan timbangan”. “Perilaku yang baik dan diam yang lama adalah kebiasaan. Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada perilaku makhluk yang mirip dengan keduanya”. [SDM. Ibn Abid Dunya dalam buku Ash-Shomti 112 dan 554. Hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah 1938] “Persaudaraan, sopan santun dan bertetangga yang baik akan memperbaiki negara dan meningkatkan taraf hidup masyarakat”. [SDM. Ahmad dalam Al-Musnad 6/159. Hadits ini dibenarkan oleh Syekh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah no. 519] Semoga Allah -Azza wa Jalla- menjadikan kita menjadi orang yang baik terhadap Allah dan makhluknya sehingga kita termasuk di sampingnya sebagai hamba yang saleh dengan akhlak yang baik; hamba yang memperoleh derajat tinggi di sisinya, dan dikumpulkan bersama Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- dan orang-orang saleh. Dibesarkan – Kehilangan adab dan kerusakan akhlak akan menjadi bencana besar di akhirat, hingga saat ini. merajalela saat ini, banyak anak yang tidak hormat kepada orang tua, siswa yang tidak hormat kepada guru, bahkan berani menganiaya orang tua. Kadang-kadang kita bahkan menemukan anak-anak dengan seks Antara Adab & Ilmu Di mana-mana misalnya; kamar tidur, dapur, dan area khusus lainnya saat Anda berkunjung. Tentu saja hal ini tidak boleh berlarut-larut karena dalam Islam sangat jelas kedudukan adat sangat penting. Adab merupakan dasar untuk membentuk karakter dan membatasi perilaku manusia, sehingga kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Seperti yang dikatakan Zakariyya Al-Anbari, dia berkata “ Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna, dalam Islam adat harus dimulai sebelum anak kembali. Mengajarkan karakter merupakan salah satu tugas orang tua karena merupakan bagian dari pendidikan untuk menunjang kepribadian anak, sebagaimana sabda Nabi , menanamkan iman pada anak-anak. Syahadat merupakan landasan untuk membangun bangunan keagamaan. Jika iman dilakukan dengan baik, itu akan tercermin dalam kepribadiannya. Anak ini menjadi sosok yang religius, pribadi yang tangguh, selalu berhati-hati dalam bertindak karena merasa Tuhan sedang mengawasi. , memberikan contoh. Anak adalah peniru ulung, dalam hal mengajarkan sopan santun kepada anak terlebih dahulu harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti membiasakan meminta izin saat memasuki kamar anak, meminta maaf saat orang tua sedang mengajar, mengucapkan sesuatu yang sopan. Dengan begitu, anak akan memiliki contoh nyata untuk ditiru. Sebab Kenakalan Pada Anak, Ajarkan Anak Adab, Akhlak Dan Ilmu , menanamkan moral melalui cerita. Anak-anak memiliki banyak imajinasi, sehingga orang tua dapat membacakan kisah-kisah para rasul dan para sahabatnya, tentang akhlak yang tinggi pada anak-anak, misalnya menceritakan kepada utusan Allah makan dan minum, berbicara, tingkah laku kepada orang tua. agar anak memiliki gambaran yang jelas tentang nilai-nilai yang kita sebutkan. , untuk menjauhkan anak dari lingkungan yang buruk. Minimnya penerapan sistem Islam kaffah memaksa keluarga muslim harus ekstra hati-hati dalam mengasuh anaknya. Ini mungkin sudah tersedia di rumah , sopan santun tetapi jika lingkungannya tidak baik maka anak dapat terpengaruh, jadi sangat penting untuk memastikan bahwa anak tersebut adalah temannya. Orang tua harus membimbing dan menjelaskan kepada anak dengan bijak agar anak tidak protes jika orang tua terpengaruh untuk memilih teman. , untuk memilih program media khusus untuk anak-anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa era merupakan tantangan yang luar biasa bagi keluarga muslim. Orang tua harus pintar dalam memilih tayangan untuk anaknya dan mengontrol aktivitasnya, orang tua dapat menjelaskan dampak negatif dari tayangan yang tidak mendidik dengan menyinggung agama, misalnya jika Allah tidak suka jika adik menonton tayangan yang buruk. Pentingnya Utamakan Adab Sebelum Ilmu , pandai memberi nasihat. Jika perilaku anak tidak sesuai dengan syariat, maka orang tua harus memberikan nasihat dan bimbingan dengan cara yang wajar dan dapat diterima serta memberi contoh perilaku yang benar. Dalam situasi saat ini, merupakan tantangan besar bagi orang tua untuk mendidik putra-putrinya menjadi generasi yang saleh, semoga kita mendapat kekuatan dari Tuhan untuk mengatasi semua tantangan yang ada sehingga putra putri kita menjadi generasi emas pewaris. peradaban 17 November 2022 0626 17 November 2022 0626 Diperbarui 17 November 2022 0642 172 6 2 Sahabat sejati, sahabat setia, sahabat terpercaya, profesional lembut, orang yang perhatian, adalah seseorang yang selalu dibutuhkan dan dirindukan. Luar biasa, ini terjadi setiap saat. Kami sering menemukan gambar ini di kakek-nenek kami, atau keduanya. Kita juga dapat menemukan teman lama ketika kita bertemu sekarang sebagai alumni sekolah atau program tertentu. Nah, kami menemukan bahwa dalam mengumpulkan pengetahuan, Adab menuntut ilmu imam ghazali, belajar ilmu tanpa guru bagaikan, buku adab penuntut ilmu, amal tanpa ilmu bagaikan, hadits tentang adab diatas ilmu, belajar adab sebelum menuntut ilmu, ensiklopedia adab penuntut ilmu, adab ilmu, buku adab menuntut ilmu, hadits tentang adab menuntut ilmu, hadits adab diatas ilmu, adab diatas ilmu
Kalaubelajar tanpa semangat Pasti beban terasa berat. 42. Terumbu karang ada udangnya Udang dikejar seekor ikan Belilah barang secukupnya Jangan semua dibelanjakan. 43. Buah nanas di atas bangku Buah duku dibuat jamu Jangan malas membaca buku Karena buku sumber ilmu. 44. Jalan-jalan ke ibu kota Pulang kampung naik kereta Ilmu itu bagaikan pelita
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Belakangan ini banyak yang menyampaikan, belajar tidak harus dengan seorang guru. Belajar bisa dengan apa saja dan di mana saja. Pendapat ini boleh jadi benar, namun bisa juga kurang tepat. Sebab, sejatinya yang disebut guru tentulah bukan hanya orang yang benar-benar berprofesi sebagai hal ini, guru yang dimaksud adalah guru kehidupan. Hidup tentu bukan semata-mata menguasai persoalan akademis saja. Di dalam universitas kehidupan, guru bisa didapatkan dari mana saja dan siapa saja. Maka bisa dipastikan, belajar tetap memerlukan seorang guru, apa pun era multimedia seperti saat ini, setiap individu tidak lagi dibatasi ruang dan waktu dalam belajar. Bahkan belajar jarak jauh dengan metode online semakin marak. Ini tentu memungkinkan semua orang bisa belajar apa saja, di mana saja. Lalu siapa gurunya? Tentu saja mereka yang sudah memfasilitasi pembelajaran tersebut. Saat ini, seorang murid bahkan bisa belajar dari seorang guru yang tidak dikenal secara langsung. Pun guru bisa mengajar tanpa mengenal satu demi satu muridnya. Sebab pembelajaran dilakukan menembus ruang dan waktu menggunakan sarana internet. Namun ada juga guru yang tetap bertahan mengajar dengan metode tradisional, secara tatap muka. Metode ini masih memiliki banyak keunggulan. Bagi sahabat yang sudah melewati beberapa bangku sekolah, bukankah interaksi dengan guru merupakan sesuatu yang sangat berharga? Justru kehadiran guru ini tidak hanya sebatas memberikan ilmu, namun juga memberikan pembelajaran di sinilah letak perbedaan utama antara guru yang mengajar tatap muka dengan guru yang mengajar melalui belantara maya. Interaksi yang terjadi sangat bernilai harganya. Terlebih, melalui interaksi itu pula, seorang guru bisa memberikan saran dan koreksi kepada muridnya. Koreksi ini merupakan sesuatu yang agaknya sulit didapatkan dengan metode pembelajaran online. Belajar tanpa guru memang bisa. Namun, belajar langsung dengan para guru hebat, tentu sangat berbeda hasilnya. Ada banyak hal di luar keilmuan yang bisa lekat di ingatan, ketika guru saya, Pak Rachmad, seorang guru olahraga sekaligus pembina Pramuka di SMP 33 Surabaya, menyarankan kepada saya untuk menjadi wartawan. Rupanya, beliau memahami bagaimana bakat dan kemampuan saya dalam hal tulis-menulis, sehingga muncullah saran tersebut. Jelas saya merasa sangat beruntung, karena berkat arahan beliau, saya pun akhirnya benar-benar menjadi seorang pula ketika duduk di bangku SMA 2 Berau, guru bahasa Indonesia, Pak Sumarto pernah mendaulat saya untuk mewakili sekolah mengikuti lomba pidato. Padahal, saya sama sekali tidak merasa pandai bicara di depan umum. Namun, beliaulah yang memberikan arahan dan bimbingan, hingga kemudian saya bisa berlaga dalam lomba pidato hingga tingkat nasional. Untuk bisa menjadi wartawan, saya pun akhirnya mengenal sosok wartawan di Berau yang kini menjadi kepala Dinas Pariwisata Berau. Mappasikra Mappaselleng, dulu merupakan wartawan harian Manuntung sekarang Kaltim Post. Berkat kesediaannya mengajarkan saya ilmu jurnalistik tanpa pamrih, akhirnya saya pun bisa mengikuti jejaknya menjadi wartawan Kaltim Post hingga Kaltim Post, saya pun memiliki guru yang mengajarkan ketelitian. Syafril Teha Noer, sekarang ketua Dewan Redaksi, sangat detail dan teliti dalam mengoreksi tulisan. Berkat kejeliannya pula, saya akhirnya terbiasa menulis dengan bersih, berupaya tanpa salah kata satu huruf pun. Meski terkadang masih ada terselip kesalahan, itu tandanya saya manusia biasa, terkadang masih bisa silap menjalankan perusahaan, ketika diberikan amanah memimpin Berau Post, guru saya adalah Zainal Muttaqin. Beliau merupakan sosok guru bijak yang sampai saat ini menjadi panutan di Kaltim Post Group. Dengan tangan dinginnya, perusahaan yang ditanganinya bisa berkembang. Pembelajaran itulah yang memungkinkan Berau Post yang ada saat ini, bisa terus hidup dan berkembang. 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya
  1. Шиհоλ уրաцуσаւ
  2. Иթ ψሎл
  3. А исрогаско
  4. Шէщуγ ι
Banyaknyailmu itu bagaikan bintang yang bersinar di langit malam, sedangkan guru bagaikan matahari hari yang menyinari sejak pagi. “Jika ingin menggali ilmu sedalam-dalamnya, hendaknya menghormati guru, belajar dengan ulet, bersungguh-sungguh, serta berterima kasihlah pada guru tanpa rasa pamrih.” “Belajar memang sangat melelahkan
Di zaman digital saat ini informasi belajar bisa diakses dengan mudah. Saat ini belajar bisa di mana saja dan kapan saja. setiap individu tidak lagi dibatasi ruang dan waktu dalam belajar. Mudahnya dalam belajar saat ini banyak orang belajar otodidak atau belajar tanpa guru. Perlu dicatat dalam belajar meskipun online harus memiliki guru. Dalam menuntut ilmu agama, mencari guru pun tidak sembarangan tapi harus tsiqah terpercaya, keilmuannya bisa dapat dipertanggung jawabkan, sanadnya bersambung hingga Rasullah. Abdullah bin Mubarak berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam bersabda إن الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء Maknanya “Sanad itu bagian dari agama, jika tidak ada sanad, maka siapa saja bisa berkata apa yang dikehendakinya” [HR. Muslim]. Sanad adalah silsilah keilmuan. Imam Asy Syafi’i mengatakan “Orang yang belajar ilmu tanpa guru dan sanad bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” Faidhul Qadir juz 1 hal 433 Bahkan Al Imam Abu Yazid Al Bustamiy berkata “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.”. Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203 Jadi sangatlah bahaya sekali ketika belajar tanpa guru. Sebagaimana kisah yang diceritakan oleh Imam Abu Hayyan al Andalusi; salah seorang Imam ahli Tafsir, penulis Tafsir al-Bahr al-Muhith, dalam untaian bait-bait syair-nya menuliskan sebagai berikut “Orang lalai mengira bahwa kitab-kitab dapat memberikan petunjuk kepada orang bodoh untuk meraih ilmu. Padahal orang bodoh tidak tahu bahwa dalam kitab-kitab tersebut ada banyak pemahaman-pemahaman sulit yang telah membingungkan orang yang pintar. Jika engkau menginginkan meraih ilmu dengan tanpa guru maka engkau akan sesat dari jalan yang lurus. Segala perkara akan menjadi rancu atas dirimu, hingga engkau bisa jadi lebih sesat dari orang yang bernama Tuma al-Hakim.” Tuma al-Hakim adalah seorang yang belajar tanpa guru dalam memahami hadits. Suatu hari ia mendapati hadits shahih, redaksi asli hadits tersebut adalah; “al-Habbah as-Sawda’ Syifa’ Likulli Da“. Namun Tuma al-Hakim mendapati huruf ba’ pada kata al-habbah dengan dua titik; menjadi ya’, karena kemungkinan salah cetak atau lainnya, maka ia membacanya menjadi al-Hayyah as-Sawda’. Tentu maknanya berubah total, semula makna yang benar adalah “Habbah Sawda’ jintan hitam adalah obat dari segala penyakit”, berubah drastis menjadi “Ular hitam adalah obat bagi segala penyakit”. Akhirnya, Tuma al-Hakim mati karena “kebodohannya”, mati terkena bisa ular ganas yang ia anggapnya sebagai obat. Itulah bahaya yang disebabkan belajar tanpa guru. Dalam hal keduniawian saja memerlukan guru dalam belajar agar murid dapat memahaminya dengan baik dan benar. Oleh karenanya meskipun saat ini ilmu bertebaran luas di internet ataupun di buku-buku maka hendaknya seseorang tersebut harus memiliki guru, jika ada yang tidak paham bisa langsung bertanya kepada gurunya, bukan memahami dengan sendirinya. Terlebih lagi belajar mengenal Tuhan harus memerlukan seorang mursyid guru yang sempurna serta terpercaya dan mampu menyempurnakan agar tidak tersesat. Arip

Belajartanpa guru, boleh seperti mendengar video ceramah karna org Nyata adanya org yg ceramah tersebut,dan seperti membaca buku lihat sumber dan siapa penulisnya tapi itu juga jika yg hukum2 nya jelas tanpa Interpretasi ( dalam istilah yg pelu terjemah dan tafsir dan gerak dsb) jika ada yg tidak di pahami tanyalah ke org nya atau ke guru2 lainya

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Seorang guru selamanya akan menjadi guru, meskipun kita sebagai siswanya telah melupakan atau sudah tidak mengingat wajah ataupun namanya. Karena sejatinya guru itu seseorang yang sangat berjasa, bagikan lilin yaitu ia menerangi jalan banyak orang dengan kemampuanya walaupun ia yang tersakiti. Dalam arti seorang guru dalam keadaan lelah pun tetap memberikan ilmunya kepada siswanya. Tanpa adanya seorang guru, kita tidak bisa menjadi seperti yang sekarang ini, menjadi seseorang yang pandai akan segala hal yang ada dalam diri masing-masing, karena kemampuan yang dimiliki seorang itu dapat di tingkatkan melalui belajar, dan tanpa adanya seorang guru yang mengarahkan apakah kita sebagai seseorang yang belajar bisa mwlakukan nya sendiri? Tentu saja tidak. Maka dari itu guru dikatakan bagaikan lilin. Lihat Pendidikan Selengkapnya

Padahalsopan santun itu jika digunakan akan mencegah banyak keributan, akan mencegah terjadi pertengkaran dan akan mempererat rasa persaudaraan. Dulu di sekolah dan tempat mengaji atau diriungan, saya diajarkan oleh guru atau saudara. Kalau lewat di depan orang tua harus membungkuk dan bilang permisi.

Ilmu adalah gedung, sedangkan kuncinya adalah bertanya, belajar agama tanpa guru seperti dibimbing oleh “setan” AKHIR-akhir ini kita sering mendengar himbauan dan saran untuk mempelajari ilmu agama hanya dengan berpedoman pada buku-buku yang dibeli tanpa perlu berkonsultasi dan dengan para ulama. Mereka juga merasa yakin dengan pemahamannya sendiri seolah menyamakan tingkat ilmu agama yang sangat rumit dan membutuhkan penjelasan dari para ulama dengan ilmu-ilmu duniawi lainnya. Kemudian ada kelompok tertentu yang merasa cukup mumpuni untuk memasuki bidang ini hanya dengan membaca buku saja. Gejala ini mengundang berbagai dampak negatif, antara lain lemahnya pemahaman dan pendalaman dalam suatu bidang ilmu dengan gambaran nyata. Hal ini karena ilmu Islam tidak hanya memuat fakta dan pernyataan, sebenarnya membutuhkan pemahaman yang jelas dari dada para ulama yang mengambil ilmu dari ulama sebelumnya hingga sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ. Tanpa bimbingan dari para ulama atau guru, jika terjadi salah paham ketika membaca, seseorang akan terus tersesat pemahamannya dan berakibat menyesatkan orang lain. Itulah sebabnya ada pernyataan bahwa mempelajari agama sendiri dengan kitab-kitab saja tanpa bimbingan seorang ulama/guru seperti dibimbing oleh setan walaupun kebanyakan ulama menganggap pernyataan ini bukan hadits melainkan Ibnu Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al -Makiah menganggap bahwa pernyataan ini adalah hadits. Karena masalah ini telah menjadi perdebatan, saya ingin meluangkan waktu untuk menjelaskan masalah ini. Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat bagi semua pihak. Ulama adalah pewaris para Nabi Kata ulama merupakan bentuk jamak dari akar kata alim yang berarti orang yang memiliki ilmu yang sangat dalam. Hal ini berbeda dengan kata alim yang berarti orang yang mengetahui tetapi belum tentu mengerti. Kata-kata ulama ini telah disebutkan di beberapa tempat dalam al-Quran al-Karim dan al-Hadits ﷺ baik secara langsung maupun tidak langsung, yang menunjukkan bahwa ulama adalah individu-individu terpilih yang menguasai ilmu Allah Ta’ala secara mendalam dan memiliki akhlak terpuji. Oleh karena itu, ulama yang saya maksud di sini adalah seorang ahli yang memiliki pengetahuan mendalam tentang agama Islam dengan syarat-syarat tertentu sebagai seorang ulama. Ulama adalah mereka yang mampu mengungkap dan memahami dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits ﷺ dengan sempurna. Mereka juga tidak hanya memahami dalil dan penjelasan dari para ulama masa lalu salaf, bahkan ada yang menghafal ratusan ribu hadits, ilmu yang luas dan sebagainya hingga memenuhi syarat untuk disebut sebagai ulama. Mereka selalu istiqomah dan memperoleh dengan keikhlasan yang diajarkan kepada mereka dari Nabi ﷺ. Islam telah mengakui ulama sebagai ahli waris para nabi sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ» “Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, Allah memperjalankannya di atas salah satu jalan surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim itu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada di dasar lautan. Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.” HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan di sini bahwa ulama adalah golongan yang mendapatkan keuntungan dan kemuliaan dalam agama Islam dengan mengakui mereka sebagai ahli waris para nabi. Karena ulama memiliki tempat khusus dalam masyarakat, maka banyak kelompok tertentu yang seolah-olah mengaku setingkat dengan ulama padahal ia baru saja pada tahap awal memahami ilmu-ilmu keislaman. Kelompok inilah yang akan menghancurkan syariat agama sedikit demi sedikit daripada mengikuti ajaran para ulama yang sesungguhnya. Pentingnya belajar agama langsung dari ulama Kita sudah terbiasa mendengar suara-suara perbedaan pendapat dari kelompok-kelompok tertentu yang berusaha keras merendahkan ilmu dan kemuliaan para ulama untuk menutupi kelemahan dan kesalahan yang mereka perbuat. Beberapa dari mereka bahkan ada yang berdalih, bahwa para ulama tidak maksum, ia tidak seperti Nabi ﷺ dan kemudian menyarankan bahwa tidak perlu mengikuti bimbingan para ulama untuk memahami urusan Islam. Mereka juga mengatakan bahwa dalil-dalil al-Quran al-Karim dan al-Hadits ﷺ hanya bisa langsung diambil dengan pemahaman mereka sendiri dengan hanya merujuk pada kitab-kitab tertentu. Apakah tindakan ini sesuai dengan Islam? Allah berfirman وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ ۚ فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, Jadi sebaiknya Anda bertanya kepada ahli dzikir ulama jika Anda tidak tahu.” QS al-Nahl Ayat 43. Imam Syatibi dalam karyanya al-Muwafaqat telah menjawab pertanyaan ini dengan argumennya yang mengatakan betapa pentingnya bagi guru untuk memperdalam dan memahami sesuatu. Imam Shatibi juga mengatakan bahwa para ulama telah mengatakan “Sesungguhnya ilmu itu ada di dada guru, kemudian ilmu itu dipindahkan ke dalam kitab. Jadi kunci ilmu tetap di tangan guru.” إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” HR. Bukhari, Muslim, At-Thabrani, dan Ahmad dari empat orang sahabat. Menurut Imam Syatibi lagi, hadits ini sebagai dalil bahwa guru adalah kunci ilmu dan perlunya menuntut ilmu dari dada guru. Selain itu, bagi siswa/santri yang belum memahami sesuatu yang dipelajarinya, dapat terus meminta penjelasan kepada guru/ulama sampai semuanya jelas. Sedangkan bagi mereka yang belajar tanpa guru, pemahamannya sangat terbatas berdasarkan buku-buku yang ada di hadapannya. Bisa jadi pemahaman mereka benar dan bisa juga pemahaman mereka salah. Makna Nabi ﷺ bersabda الْعِلْمُ خَزَائِنُ وَمِفْتَاحُهَا السُّؤَال ﻣَﻦْ ﻳُﺮِﺩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻪِ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻳُﻔَﻘِّﻬْﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ويلهمه رشده “Ilmu adalah gedung/lemari, sedangkan kuncinya adalah bertanya. Barangsiapa dikehendaki Allah swt kebaikan, maka akan dipahamkan dalam agama, diilhamkan petunjukNya.” HR Bukhari Kritik belajar agama tanpa bimbingan ulama dan guru Sanggahan dan kritik menuntut ilmu tanpa bimbingan ulama/guru saya kutip dari kata-kata Syeikh Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Pernyataannya diambil dari kitabnya al-Sahwah al-Islamiah Baina al-Jumud Wa al-Tatarruf, beliau mengatakan “Kebanyakan dari mereka tidak bertalaqqi belajar langsung dengan ulama dan syeikh yang memiliki ilmu khusus di bidangnya. Di sisi lain, mereka hanya mempelajari halaman demi halaman buku secara langsung tanpa membuka kesempatan dan waktu untuk merujuk dan membahas apa yang akan diambil dan menolak pendapatnya untuk memungkinkan identifikasi pemahaman dan pengetahuan yang ditempatkan dalam perkuliahan di kedalaman. Ini akan disajikan dan dibahas selama masa studi. Namun sayangnya mereka hanya membaca sedikit dan berdasarkan pemahaman yang sangat sedikit mereka lalu mengeluarkan instinbath dan mengeluarkan hukum-hakam.” Barangkali mereka salah membaca, salah paham atau salah mengistinbatkan hukum, tetapi mereka tetap tidak tahu kesalahannya. Lebih lanjut beliau menambahkan “Meski orang-orang ini ikhlas, namun kenyataannya mereka lupa bahwa ilmu Syariat agama Islam dan pemahamannya perlu dirujuk kepada ahlinya yang bisa dipercaya. Memang, mereka tidak akan bisa menyebrangi lautan luas ini sendirian tanpa pemandu ulama/guru yang selalu membimbing tangan mereka. Panduan ini akan menjelaskan kepada mereka apa yang tidak jelas dan istilah-istilah yang memiliki kesamaran dan menjelaskan dari cabang ke apa yang utama dan akan menunjukkan semua kesamaran.” Di akhir penjelasannya tentang hal ini, beliau kembali menegaskan pernyataannya bahwa perlunya berguru untuk mempelajari ilmu agama “Ini mempelajari ilmu agama dengan ulama/guru inilah yang telah diambil sebagai tindakan pencegahan oleh ulama Salafus Sholeh agar menjauhi belajar ilmu dengan cara ini tanpa guru. Mereka berkata Jangan mengambil al-Qur’an al-Karim hanya dengan mushafnya dan bukankah ilmu diambil dengan hanya dari mushafnya kitab. Yang dimaksud dengan mengambil hanya dari mushaf adalah menghafal al-Qur’an al-Karim dari catatan-catatan pada mushaf tanpa berbicara mengambil dan mempelajari ilmu secara tatap muka dengan ulama/guru dengan mulut-mulut guru yang diyakini keilmuannya.” Syekh al-Qaradhawi berkata lagi dalam bukunya al-Sahwah al-Islamiyyah Min al-Murahaqah Ila al-Rusyd “Memang banyak anak muda zaman sekarang yang hanya membaca beberapa buku, khususnya ilmu hadits, kemudian merasa sudah ahli dalam ilmu, padahal belum mencicipi awalnya. Mengklaim bahwa mereka mampu berijtihad dalam urusan agama, sekaligus pengetahuan tentang bahasa Arab dan komponen-komponennya serta nahu dan sumsum tulang belakang. Jika Anda meminta mereka untuk membacakan sebuah ayat, mereka tidak akan dapat menjawabnya dengan baik. Mereka juga tidak mempelajari ilmu Ushul Fiqh! Hanya menebak dugaan apa pun yang seharusnya tahu tentang semua masalah. Hal ini menyebabkan mereka tidak cakap dalam ilmu fiqih apalagi membenamkan diri dalam lautan luas perdebatan yang akan membuat mereka semakin terampil dan mampu memahami dengan baik. Memang orang-orang ini seperti apa yang dikatakan Imam Zahabi, “Saya ingin terbang tetapi tidak ada sayap.” Bisakah langsung belajar langsung dari buku? Meski saya menyerukan menuntut ilmu agama dengan ulama/guru terpercaya, bukan berarti saya menolak sama sekali belajar melalui buku. Hanya saja pembelajaran dengan buku tanpa guru perlu diberikan perhatian tentang kebutuhannya pada suatu saat. Bagi mereka yang berada pada jenjang pendidikan awal dan menengah, maka dapat dipastikan tuntutan untuk mempelajari ilmu secara keguruan lebih diutamakan karena tidak memiliki landasan yang kokoh tentang suatu ilmu tertentu. Setelah mereka memahami dan memperdalam semua dasar-dasar yang diperlukan dengan kuat, maka mereka harus membaca buku-buku terkait untuk menambah pengetahuan mereka. Namun, jika ada hal-hal yang tidak dipahami atau ada kerancuan selama pembacaan/belajar, maka tetap diminta untuk bertanya kembali kepada ulama/guru. Bagi yang tidak berkesempatan untuk menuntut ilmu melalui pendidikan, juga diwajibkan untuk membaca buku atau mendengarkan ceramah dan juga dapat membaca di internet untuk menambah ilmunya. Namun jika ada hal-hal yang kurang dipahami, maka harus merujuk juga kepada ulama/guru terpercaya untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Hal ini dikarenakan seorang ulama/guru memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap ilmu tersebut dibandingkan dengan orang yang hanya membaca buku sebagai referensi. Oleh karena itu, keutamaan dan keunggulan sudah pasti pada mereka yang belajar ilmu agama dengan seorang guru jika dibandingkan dengan kelompok yang belajar ilmu agama tanpa belajar. Karena menuntut ilmu agama dengan menuntut ilmu merupakan jalan yang ditempuh oleh generasi Salaf dan para ulama lainnya. Sedangkan bagi yang sudah mempelajari dan menguasai semua dasar-dasar ilmu dapat membaca sendiri karena mampu memahami isi kitab berdasarkan apa yang telah dipelajari dari para ulama/guru sebelumnya. Penutup Jika agama Islam menganjurkan belajar tanpa guru, mengapa para ulama terdahulu rela merantau dan berpindah-pindah untuk menuntut ilmu pada ulama yang terpercaya alim? Padahal, mereka memiliki ratusan guru yang merupakan ulama muktabar, bukankah ini menunjukkan pentingnya mengajar dalam menuntut ilmu agama? Mungkin ada yang mengira zaman dulu tidak memiliki teknologi yang canggih seperti sekarang, karena itulah mereka hijrah untuk menuntut ilmu. Jika pernyataan ini benar, mengapa Nabi ﷺ menganjurkan umatnya untuk belajar murid dan mengajar guru? Bukankah ini menunjukkan betapa pentingnya mempelajari ilmu agama? Tidak mungkin semua anjuran Nabi ﷺ salah, apalagi tidak mengikuti perkembangan zaman, bukan? Kata Muhammad bin Sirin seorang ulama di era tabi’in sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim yang ditulis oleh Imam Muslim; إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِيْنَكُمْ Sesungguhnya ilmu itu adalah agama. Maka dari itu, perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian. Lihat Muqaddimah Shahih Muslim.*/Muhammad Rashidi Wahab, alumni Al-Azhar,
1 Kenapa dipersulit jika bisa dipermudah, sangat cocok untuk pemula, dari "NOL". yg masih takut dengan bahasa Inggris agar jadi suka, Para Guru atau Dosen Bahasa Inggris yang ingin Kegiatan belajar mengajar bahasa Inggris jadi mudah, cepat dan menyenangkan. ️. .. 2. Peserta belajar bagaikan Raja dan Ratu.
Ma’had Aly – Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban menuntut ilmu telah dianjurkan didukung beberapa dalil, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW berikut طلب العلم فريضة علی كل مسلم و مسلمة “Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang muslim dan muslimat.“ Di dalam kitab Ta’lim Muta’alim karya Imam Az-Zarnuji dijelaskan bahwasanya tidak diwajibkan setiap muslim dan muslimat untuk menuntut semua ilmu, akan tetapi menuntut ilmu sebagaimana keadaannya. Menjadi santri yang menuntut ilmu menjadikan dirinya memiliki keutamaan dan derajat yang tinggi. Sebagaimana firman Allah SWT يرفع الله الذين امنوا منكم و الذين اوتوا العلم درجات “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang menuntut ilmu.“ Terlebih banyak keutamaan menuntut ilmu dijelaskan dalam banyak hadis Nabi. Seperti hadis berikut ini. من غدا لطلب العلم صلت عليه الملائكة و بورك له فی معيشته “Siapa orang yang pagi hari menuntut ilmu maka para malaikat akan membacakan shalawat untuknya dan diberkahi kehidupannya.“ Banyak fadhilah orang yang mencari ilmu, juga orang yang mengajarkan serta mereka yang mengamalkan ilmu. Mempelajari ilmu, terutama ilmu agama hendaknya dipelajari melalui guru walaupun keadaan zaman sekarang banyak ilmu praktis nan simpel tersedia di laman tertentu, contoh jika ibu jarinya mengetik satu dua kata yang ingin diketahuinya di tab pencarian, sudah banyak muncul jawaban dari persoalan yang ia tanyakan. Namun dari kemudahan itu, justru kenikmatan menimba ilmu tak didapatkannya. Orang yang belajar melalui seorang guru akan jelas sanad gurunya daripada orang yang belajar otodidak melalui media praktis. Dikhawatirkan bagi mereka yang belajar tanpa guru, akan mudah terjerumus ke dalam ajaran yang menyimpang dan membuat bingung diri sendiri, sebab tiada keteguhan dalam ilmu yang dipelajarinya. Maka dari itu, sangat tidak dianjurkan jika seseorang belajar tanpa guru. Ilmu didapat tidak cukup secara otodidak, akan tetapi yang paling penting adalah adanya sosok guru yang menjadi pembimbing agar tidak kesasar dalam mengarungi kehidupan dan juga dalam beragama. Di dalam kitab Bajuri disebutkan bahwa siapa yang tidak memiliki guru yang ia jadikan pembimbing, maka gurunya adalah syaitan. من لا شيخ له فشيخه الشيطان “Barang siapa yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah syaitan.“ أبو يزيد يقول من لم يكن له أستاذ فإمامه الشيطان Dalam redaksi lain, Abu Yazid berkata “Dia yang tidak memiliki guru, maka imamnya adalah syaitan.” يقول عبد الكريم القشيري الشافعي في رسالته المعروفة بالرسالة القشيرية يجب على المريد أن يتأدب بشيخ فإن لم يكن له أستاذ لا يفلح أبداً. “Abd al-Karim al-Qushayri al-Shafi’i mengatakan dalam risalahnya yang dikenal sebagai al-Risalah al-Qushayri bahwa seorang murid harus didisiplinkan oleh seorang syekh guru, dan jika dia tidak memiliki seorang guru, maka ia tidak akan pernah berhasil.” Bahayanya Belajar Tanpa Guru KH. Ahmad Baha’udin Nur Salim atau yang dikenal dengan Gus Baha’ menyampaikan di dalam kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau berkata ان يصحح ما يقرٶه قبل حفظه تصحيحا جيدا اما علی الشيخ او علی غيره ممن يتقنه ” Seorang murid santri harus mentashih membenarkan bacaannya sebelum menjaganya dengan tashih yang benar kepada guru atau kepada orang yang diyakininya.“ Dari sini Gus Baha’ menegaskan bahwa orang yang belajar tanpa guru sangat berbahaya dan orang yang belajar harus mentashih bacaannya sebelum menjaga ilmunya. Dalam mentashih bacaan saja pun harus memiliki guru, terlebih banyak fan keilmuan lain yang wajib memiliki guru sehingga jelas sanad keilmuannya. Dapat diambil kesimpulan, orang yang belajar harus ada seorang yang membimbing dan juga ahli dalam keilmuannya. Ada suatu kisah seorang dokter yang bernama Tuma Al-Hakim. Orang tuanya ialah seorang dokter dan mewariskan banyak buku kedokteran kepadanya. Ia pun sibuk menelaah buku-buku dan membaca buku tersebut. Di saat ia membaca buku tersebut, ia menemukan kalimat berikut. الحبة السداء شفاء من كل داء “Habbatussauda’ jintan hitam adalah obat untuk segala penyakit.“ Buku yang ia baca sudah usang dan mengalami kesalahan saat ditulis. Alhasil satu titik huruf ba’ dalam penglihatannya menjadi dua titik, yakni huruf ya’. الحية السوداء شفاء من كل داء “Ular hitam adalah obat untuk segala penyakit.“ Disebutkan dalam beberapa kisah bahwa ia menyebabkan kematian banyak orang, sebab memberi obat yang terbuat dari ular hitam. Contoh tersebut menunjukkan bahwa betapa bahayanya jika seseorang menelaah atau belajar suatu ilmu tanpa guru. Olehsebab itu, tidak diperbolehkan belajaragama secara praktis lewat media-media sosial yang belum jelas dari lisan mana ilmu tersebut dinukil, karena hal itu akan menjadikan kesesatan bagi diri sendiri dan orang lain. Kontributor Robiihul Imam Fiddaroini, Semester 3 Post Views 3,699
WALIKELAS. PANDUAN PPDB SDN 67 BANDA ACEH. STORY TELLING. SDN67 Memperingati Sumpah pemuda. Belajarlah Agama pada Guru yang memiliki Sanad ilmu agama dari para ulama Dewasa ini perkembangan teknologi sangatlah pesat, diantaranya adalah digitalisasi media cetak maupun elektronik. Perkembangan teknologi ini mempermudah segala bidang kehidupan tak terkecuali bidang agama. Proses pembelajaran agama sekarang dipermudah dengan adanya software dan hardware seperti kitab – kitab elektronik baik kitab lampau klasik ataupun kontemporer, ditemukan pula berbagai perangkat elektronik seperti perangkat untuk belajar membaca Al-Qur’an, bahasa arab dsb. Dengan kemudahan – kemudahan ini masyarakat awam pun menjadi bersemangat dalam menggali dan mempelajari agamanya. Namun seiring berjalannya waktu ada sebagian masyarakat yang menjauhi majelis – majelis ilmu dan mengatakan bahwa belajar agama tak perlu lagi berguru lewat ulama Kyai, Ustadz dsb singkatnya mereka belajar secara otodidak. Lalu Bagaimana hukumnya belajar agama tidak berguru lewat ulama Kyai ? Karena saat ini banyak bertebaran Orang yang mengaku ustad yang hanya memperoleh ilmu agama dari Buku dan internet ..??? Belajar agama lewat guru Ulama/Kyai adalah wajib hukumnya, karena mempelajari ilmu tanpa adanya seorang guru maka orang tersebut akan ngawur dan berbuat semaunya sendiri. Di bawah ini kami kutip beberapa hadist Nabi SAW dan pendapat ulama tentang pentingnya seorang guru. Telah bercerita kepada kami Abu Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Auza’i telah bercerita kepada kami Hassan bin Athiyyah dari Abi Kabsyah dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah apa yang kalian dengar dari Bani Isra’il dan itu tidak apa dosa. Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” HR Bukhari 3202 Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh didengar dari guru-guru sebelumnya disampaikan secara turun temurun sampai kepada rasulullah saw. Kita tidak diperkenankan menyampaikan akal pikiran kita semata. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. HR. Ahmad Dari Ibnu Abbas berkata Rasulullah saw bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” Hadits riwayat Ath-Thabarani Pendapat ulama’ وَلاَبُدَ فِى سُلُوْكِ طَرِيْقِ الْحَقِّ مِنْ اِرْشَادِ اُسْتَاذٍ حَاذِقٍ وَتَسْلِيْكِ شَيْخٍ كَامِلٍ مُكَمَّلٍ حَتَّى تَظْهَرُ حَقِيْقَةِ التَّوْحِيْدِ بِتَغْلِيْبِ الْقَوِى الرُّحَانِيَةِ عَلَى اْلقَوِىِّ الْجِسْمَانِيَّةِ Diwajibkan bagi orang yang mencari jalan yang benar belajar agama untuk mencari seorang guru yang benar, dan di bawah arahan guru yang sempurna dan bisa menyempurnakan sehingga bisa menghantarkan kepada hakikatnya keyakinan dengan mengedepankan kekuatan ruhani mengalahkan kekuatan jasmani akal fikiran Tafsir haqqi, juz 15, hal 13 وقال الشيخ أَبُوْ عَلِىّ الدَّقَاقِ لَوْ أَنَّ رَجُلاً يُوْحَى إِلَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ لاَ يَجِيْئُ مِنْهُ مِنَ اْلأَسْرَارِ Syeh Abu Ali al-Daqoq berkata seandainya seseorang diberi petunjuk dan baginya tidak memiliki guru maka jangan berharap akan muncul baginya asror rahasia yang benar dari kebenaran ilmu tersebut. فَعَلَى قَارِئَ اْلقُرآنِ اَنْ يَأْخُذَ قِرَائَتُهُ عَلَى طَرِيْقِ التَّلَقِّى وَ اْلإِسْنَادِ عَنِ الشُّيُوْخِ اْلآخِذِيْنَ عَنْ شُيُوْخِهِمْ كَى يَصِلَ اِلَى تَأْكِدٍ مِنْ أَنَّ تِلاَوَتَهُ تُطَابِقُ مَا جَاءَ عَنِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه و سلم Bagi orang yang belajar membaca al-Qur’an disyaratkan untuk belajar cara membaca dari guru yang guru tersebut mendapat ajaran dari gurunya, agar kebenaran dari bacaan tersebut sesuai dengan apa yang di ajarkan rasulullah saw. Haqqu al-Tilawaah, hal 46 Apakah yang dimaksud dengan sanad dan sebatas manakah pentingnya sanad guru Kyai, Ulama ? Sanad adalah silsilah atau mata rantai yang menyambungkan kita dengan sebelum kita, jadi sanad adalah hubungan. Kalau secara bahasa sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain atau sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain, tapi didalam makna ini secara istilah adalah bersambungnya ikatan bathin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, sebagian besar adalah guru-guru kita. Sanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits. Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/ redaksi hadits dari lisan Rasulullah Sedangkan sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah. Demikian juga dengan sanad seorang guru agama, sama pentingnya karena sebagai pertanggung jawaban ilmu yang di ajarkan dan orisinalitas ilmu. Untuk lebih jelasnya di bawah ini kami kutip beberapa hadist Nabi saw dan pendapat Ulama’ tentang begitu pentingnya sanad. …. عن عبدَ الله بن المبارك يقول الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلاَ اْلإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ Ibnul Mubarak berkata ”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no32 Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah saw bersabda… ”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “Tiada ilmu tanpa sanad”. Al-Hafidh Imam Attsauri rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga” Al-Imam Abu Yazid Al-Bustami; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203 Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah saw. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“ Dan sebagai penjelasan terakhir mari kita renungi bersama sama apa yang di sampaikan Habib mundzir al-Musyawa “Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw”. “Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur, jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu guru tetap penting. Jadi tidak boleh hanya membaca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita sedang mendapatkan masalah”. Memperluasjejaring antarguru untuk berbagi ilmu maupun bertukar pendapat yang lebih berkualitas. Penerapan Merdeka Belajar memberi kesempatan guru lebih berekspresi, bereksperimen, berkolaborasi, berkreasi, dan berinovatif. Selamat ”BERJUANG” untuk Merdeka Belajar! (*) Editor: Ali Mustofa. pendidikan. tingkatkan kompetensi. HakCipta: Attribution Non-Commercial (BY-NC) Format Tersedia. Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online dari Scribd. Tandai sebagai konten tidak pantas. Unduh sekarang. Simpan Simpan Gaya Mengajar Guru Bisa Macam Untuk Nanti. 100% (1) 100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara) Temanggung(08/01) Lima tahun lagi akan terjadi kondisi dimana banyak Sanggar Kegiatan Belajar tanpa pamong belajar. Hal itu bisa terjadi jika tidak segera dilakukan rekrutmen pamong belajar baru. Ironisnya, Sanggar Kegiatan Belajar akan tetap bisa melakukan penyelenggaraan satuan pendidikan nonformal walau nantinya tidak memiliki pamong belajar.
Hubungankurikulum dengan belajar dan pembelajaran. Hubungan kurikulum dengan belajar dan pembelajaran Dalam hal ini guru/pengajar tidak termasuk sebagai unsur sistem pembelajaran karena fungsinya dapat digantikan kepada media lain, misal : buku, internet dan lainnya. 4. Saylor menyatakan bahwa kurikulum dan pembelajaran bagaikan romeo
.