- Usia bukanlah halangan untuk mengasah hobi dan meraih prestasi di bidang apa saja, salah satunya di bidang olahraga, seperti halnya Muhammad Rasya Thalhah Nabil Lubis 13 atau yang akrab disapa Rasya. Murid kelas 1 SMP Sekolah Cikal ini telah sukses meraih puluhan prestasi dalam dan luar negeri yang diperolehnya di olahraga sepak bola sejak berbagi cerita bagaimana awal mula ia menyukai dunia sepak bola, yakni saat ia terpilih menjadi salah satu Player Escort dalam laga persahabatan FC Internazionale Indonesia Tour tahun 2012 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Baca juga Murid Kelas 10 Kreasikan Tenun Jadi Fesyen Milenial, Beromzet Ratusan Juta “Waktu itu aku menjadi Player Escort untuk FC Inter Milan. Itu jadi awal momen aku semakin suka dengan sepak bola, aku jadi turut merasakan bagaimana serunya bermain bola, merasakan lingkungan menjadi pemain sepak bola, seperti bisa main di stadion besar, banyak yang menyaksikan. Dari sanalah, aku semakin ingin bermain bola,” tutur Rasya dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis 27/5/2021. Setelah terinspirasi dari momen menjadi Player Escort FC Inter Milan, Rasya pun terus mengembangkan kompetensinya di bidang sepak bola hingga mewakili Indonesia pada kegiatan Liga Madrid, Tour The Spain 2019 dengan meraih juara 3 sebagai kapten bergabung dalam akademi sepak bola dan tetap bersekolah, Rasya terus mengukir prestasi sepak bola di berbagai kompetisi dalam dan luar negeri. Beberapa prestasi terbaiknya di antaranya adalah Splash youth soccer 2018, Tournament IJSL 2018, Junior Leagues Football, ACS, 4rd place, Tournament Sepakbola GMSV CUP IX, 3rd place, JSSL Singapore 2017, Java Soccer Academy, AIA scouting talent to Phuket Thailand 2019, dan capaian Liga madrid, Tropia Cup, 3rd place, Tour The Spain 2019 sebagai kapten tim, dan puluhan prestasi lainnya. Baca juga Uang Kripto Kian Populer, Ini Penjelasan Pakar Ekonomi Syariah IPB “Aku tergabung di dua sekolah, akademi sepak bola ASIOP dan juga Sekolah Cikal, latihanku 3 kali seminggu. Aku senang sekali Sekolah Cikal memberikanku izin dan dukungan untuk tetap latihan sepak bola, dan tentunya aku bahagia sekali bisa memperoleh banyak piala, medali, dan berprestasi di luar negeri serta membawa nama baik Indonesia di luar. Aku dapat banyak pengalaman,” tutur Rasya. Di momen pandemi ini, Rasya pun tetap berlatih dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seraya tetap belajar secara daring dengan pendampingan orang tuanya untuk mempersiapkan banyak peluang di depan. “Aku memiliki impian menjadi pesepakbola Indonesia yang bermain di laga Internasional saat usia 15-16 tahun. Untuk meraih impian itu tentunya harus terus berlatih, dan kerja keras raih mimpi. Walau kalah dan susah dalam prosesnya, tapi di sanalah aku bisa belajar. Dari sana, bisa terus berlatih sama-sama. Prinsipku, untuk meraih cita-cita harus hadapi susahnya dahulu baru mudahnya, ” kata Rasya dengan penuh semangat saat wawancara.
Cerpen Tentang Olahraga Sepak Bola. Berdasarkan buku sari kata bahasa indonesia legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu yang nah itulah sekelumit pembahasan tentang legenda bahasa jawa serta beberapa kumpulan cerita rakyat berbahasa jawa. Pengertian, teknik dasar, dan manfaat. 25+ Inspirasi Keren Contoh Poster Olahraga Sepak Bola from Pernah satu ketika sekitar tahun 90 an, ada kompetisi lokal yang para pemainnya banyak dari kalangan profesional, mereka para pemain yang. 10 pemilik klub sepak bola terkaya di dunia bagi para pengusaha sukses yang bergelimang harta mungkin sudah biasa jika mereka hidup dengan mewah dan tentunya menunjukkan kekayaan mer. Thomas sunlie alexander lahir pada 7 juni 1977 di belinyu, pulau bangka. Sejarah Singkat Permainan Sepak Bola.* Yogyakarta, 2015 *** Tentang Cerita Pendek Tentang Sepak Bola Pdf Dapat Kamu Nikmati Dengan Cara Klik Link Download Dibawah Dengan Mudah Tanpa Iklan Yang Sepak Bola Cerpen KaranganMeskipun Ia Tahu, Anak Semata Wayangnya Sangatlah Menyukai Sepak Bola. Sejarah Singkat Permainan Sepak Bola. Karenanya, pada kesempatan kali ini, kami mencoba membahas dan mengelompokkan semua hal terkait olahraga dalam bahasa arab. Read jogging from the story cerpen by sherable shera with 577 reads. Berdasarkan buku sari kata bahasa indonesia legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu yang nah itulah sekelumit pembahasan tentang legenda bahasa jawa serta beberapa kumpulan cerita rakyat berbahasa jawa. * Yogyakarta, 2015 *** Tentang Pengarang. Tak hanya kosa kata, tapi juga kami sertakan karangan terkait olahraga serta menjelaskan setiap. Dimana pun ada sebuah pertandingan aku rasanya panas pingin ikut. Cerpen olahraga cerpen remaja lolos moderasi pada. Detail Cerita Pendek Tentang Sepak Bola Pdf Dapat Kamu Nikmati Dengan Cara Klik Link Download Dibawah Dengan Mudah Tanpa Iklan Yang Mengganggu. Namun tidak bagiku , menurutku sepakbola adalah olahraga yang sangat spesial karena. Dia adalah seorang pembina pendidikan jasmani pada organisasi young man christian association ymca di kota massachussets, amerika serikat. Kami bermain pada sore hari, saat matahari tidak terlalu panas. Tragedi Sepak Bola Cerpen Karangan Pertandingan melawan borneo fc yang digelar di stadion kapten i wayan dipta, gianyar, pada kamis 24/2 malam menjadi momen terakhir pratama arhan bersama psis. U l f a h a n a f i a h x i i i p a 3 2. Nama dan tema kegiatan nama kegiatan adalah konsepgambaran keseluruhan acara secara umum. Meskipun Ia Tahu, Anak Semata Wayangnya Sangatlah Menyukai Sepak Bola. Kumpulan cerpen olah raga 1 ”selamat datang rio” angga masih saja berdiri di depan cermin kamarnya. Thomas sunlie alexander lahir pada 7 juni 1977 di belinyu, pulau bangka. 27 februari 2022, 172828 wib.cerpenpengalaman pribadi " Kalah Menang Hal Biasa " Nama aku Bocil aku sangat gemar bermain sepak bola. Pemain sepak bola yang aku kagumi dan aku idolakan adalah "CR" atau orang lebih mengenalnya Cristian Ronaldo. Aku menggemari sepak bola dari kelas 3 SD. aku mempunya cerita tentang pertandingan sepak bola ku pertama kali
Cerita Pendek Karya Thomas Sunlie Alexander Lapangan yang bukan adil, kata Aswin. Bek kanan yang tangguh, tapi mudah terpancing emosi. Dia enggak menyungguhkan, lain lagi menidakkan. Pemain lawan juga sering mengikat jikalau bertanding di alun-alun sepak bola kampungnya itu. Kesebelasan yang berkat giliran menempati sisi lapangan yang landai mesti berjuang bertambah gigih. Bola untuk bergulir lebih liar dan lawan menyerbu seperti air bah. Sekejap-sekejap bola datang, Aswadi kiper timnya, terpontang-panting mengamankan papan. Sebaliknya, betapa sulitnya menggiring si kulit bundar ke papan sebelah. Usianya kala itu baru belasan periode. Mereka patungan menyablon kaus. Biru cahaya sebagai halnya kostum Les Bleus, tim nasional Prancis. Engkau kebagian nomor bekas kaki sapta. Gelandang kiri. Sebetulnya engkau lebih suka bermain sebagai penyerang dan selalu yakin ia anak bangsawan haus gol. Serangan-serangannya tajam, menusuk sinkron ke dalaman benteng imbangan. Namun, Bang Amran berkeras ia harus main di sayap. “Tendanganmu kurang akurat, tapi umpan-umpanmu bagus!” kata mbuk iparnya yang menjadi pelatih kesebelasan kampungnya itu. Bukan ada gunanya berbantah. Tahi lalat, ia melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Bola tumpah-ruah berpangkal kakinya. Umpan demi umpan dengan gemilang disorongkannya. Ferdiansyah dan Fuad selalu subur memanfaatkan umpan-umpannya dengan memadai baik. Berkali-kali mereka menjuarai turnamen 17 Agustusan dan berhasil merebut Camat Cup dua tahun berentetan. Bahkan sekali menjadi runner-up Piala Tumenggung. Cuma, justru di kejuaraan memperebutkan piala Majikan Desa mereka seorang, di kandang sendiri, kesebelasannya mesti tersingkir di putaran peminggiran! Ya, tidak mungkin sira menaksirkan kejuaraan itu biar sudah lewat bertahun-tahun. Berdesakan, nyaris tergencet, di antara beribu-ribu calon penonton yang berkoar-koar murka, gambaran masa sangat itu merambat kerumahtanggaan kepalanya, seperti tayangan ulang di layar televisi. Digenggamnya erat-hampir tangan Riko, anaknya yang baru 10 tahun, agar tidak ikut terseret revolusi massa nan lebih kehilangan kesabaran. Bukan ada lagi antrean. Terjadi tolak-menunda, saling sikut. “Holid turuun! Holid turuuunn…!” suara kemarahan itu membahana di langit siang yang elusif. Beliau mencoba mengapalkan Riko menepi. Namun itu pun bukan keadaan mudah. Oh, betapa wajah-wajah lejar yang terpandang beringas di sekelilingnya kini serta-merta mengenangkannya pada hamba allah-orang kampungnya sendiri, nan sekonyongkonyong saja makara berangsangan tatkala berdiri di pinggir lapangan bak suporter magrib itu. Setakat sekarang, ia camar nanang hari itu terlampau awal mereka datang ke tanah lapang. Para penonton juga bertandang terlalu dini. Kompetisi akan dilangsungkan pukul empat sore, tapi jam dua warga kampungnya yang menjadi suporter telah tumpah ruah di pinggir pelan. Begitu bisingnya. Para pemuda berteriak-teriak dan berolok-olok ribut. Kaum ibu dan momongan-anak tidak kalah gaduhnya. Tak teradat tiket, tapi bandar spekulasi berkeliaran, kupon-kupon putih diam-diam diedarkan dari tangan ke tangan. Ahli bakso, penjual polong goreng, ahli es, gerobak nasi goreng, dan penjaja mainan anak-anak timbrung menyemarakkan suasana di luar lapangan. “Kami sudah kesuntukan dana!” teriak Sampul Burdin, ketua panitia penyelenggara, seperti kebakaran janggut momen warga memprotes minimnya fasilitas di lapangan. Mikrofon soak dengan suara cempleng, papan skor yang secukupnya, dan lapangan jelas tak dibenahi dengan semestinya. Penduduk namun bisa bersungut-sungut. Sungguh suasana menjelang pertandingan yang panas itu seolah masih bisa anda rasakan. Telinga mereka sampai terasa bising makanya suara teriakan. Maklum, supaya merupakan laga pertama kesebelasannya dalam turnamen, antiwirawan nan akan dihadapi tahun itu adalah kampung tetangga yang menjadi oponen turun-temurun selama bertahun-tahun. Andeng-andeng, lain cak semau alasan menyalahkan pelan jelek atas kekalahan. Kamu tahu itu, semua teman-temannya tahu. Malah bermain di kandang seorang, di hadapan orang-orang kampung nan mulai-tiba menganggap sepak bola sebagai fragmen terbit pertaruhan harga diri mereka. Di lapangan buruk itu, tim yang makin dulu menempati papan berumput lebat tentu tak menyia-nyiakan kesempatan mencetak skor sebanyak bisa jadi. Dan biasanya memang hampir selalu keluar sebagai kampiun. Maka ketika wasit membanting koin Rp100, ia kembali berdoa dengan sungguh-betapa agar Pudin bukan salah memintal gambar gunungan wayang. Puji-pujian itu terkabul. Mereka bersorak kegirangan saat melihat sebelah koin nan mendelongop di jejak kaki tangan wasit, seakan-akan sebuah gol hijau saja tercipta. Wajar hanya sekiranya suara cemooh dari suporter lawan lagi terdengar seperti itu Aswadi remang di durja gawang pilihan. Suasana menajam karena para pemuda kampung mereka membalas cemooh itu dengan garang. Terpandang aktual rasa panik di paras orang-orang yang menjadi polisi. Justru lapangan itu hanya dipagari tiga utas rayon lombong. Tapi kedudukan konsisten saja berubah jadi 2-3. Jeritan pendukung teman bergemuruh keras. Ia terhenyak. Panasnya perlombaan itu menciptakan menjadikan badan mereka seperti meleleh, tak juga makmur disejukkan oleh gerimis nan mulai menetes satu-satu lantas menggembung. Sebatas memasuki menit ke 74, satu gol sekali lagi menjebol gawang Aswadi. Kali ini dari noktah penalti! Mewujudkan kedudukan kaprikornus imbang 3-3. Kebahagiaan suporter bandingan meletus. Menyusul saling ejek dan lempar-lemparan nan tidak terhindarkan. Vas minuman, racikan papan, dan batu mulai menyimpang. Dahulu, bencana itu datang! Dia seram di sana, sira pulang ingatan, di pojok kiri gawangnya koteng. Semua pemain turun membantu benteng. Malah Ferdi tak pernah pun mendaki melalui garis tengah tanah lapang sejak gol penalti lawan tercipta. Ooh, bagaimana mungkin bisa sira lupakan serbuan yang cak bertengger begitu bertubi-tubi itu, mewujudkan mereka nyaris kocar-kacir. Ya, seolah-olah baru kemarin peristiwa itu berlangsung. Jelas sekali internal ingatannya bola itu datang bermula depan, menggelinding lurus ke tengah gawang. Aswadi tersungkur di luar boks penalti setelah berjumpalitan menghambat dua tembakan berturutan Salim. Aswin berusaha menyapu bola namun luput. Sahaja dirinya, satu-satunya individu nan bisa menghentikan laju bola itu, menyelamatkan gawang mereka bermula kebobolan. Hanya entah sudah takdir, atau amung-mata kesialan. Ah, malapetaka itu sama dengan diputar ulang kerumahtanggaan benaknya Kakinya terpeleset makanya licinnya mulut papan. Beliau kekurangan keseimbangan tepat di detik ujung sepatu kanannya menyentuh bola! Demikianlah. Anti dengan kehendaknya menendang bola jauh-jauh ke luar lapangan, sang selerang bulat apalagi terpelanting keras ke sudut kanan gawang. Tanpa ampun serempak mencarik jaring! Keributan berasal di luar tanah lapang. Sorak-sorai suporter imbangan seketika teredam oleh teriakan-teriakan marah. Sebagian pirsawan bercerai berlampar. Polisi dan polisi kadang-kadang tak berdaya ketika dengan beringas para pemuda kampungnya merangsek ke sebelah suporter lawan. Sebagian menyerbu ikut ke dalam alun-alun. Belum juga sempat anda beranjak kambuh, ia merasa bagian belakang kepalanya dihantam benda keras. Bagaimana mana tahu ia melengahkan pertandingan itu? Kepalanya nan mendapatkan pukulan batang tiang harus menerima lima jahitan dan diperban lebih dari seminggu. Tak koneksi diketahui siapa pemukulnya, bahkan lilin batik harinya rumahnya sempat dilempari orang tak dikenal. Itulah bontot kalinya dia bermain bola. Karena dua pekan berselang, hanya tiga masa setelah ia menyepakati ijazah kelulusan SMA-nya, ayahnya memanggilnya selepas sore. “Paman Hanif menanyakanmu,” kata ayahnya ketika itu, langsung menatapnya gagap. “Terserah salam pecah bibimu,” ibunya menambahkan. Amoi itu kecam pengikat di kepalanya dengan trenyuh. Beliau siuman, bagaimana sira hanya bisa tertunduk di sisi meja ruang paruh. “Kau mau kuliah?” pertanyaan si ayah kemudian. Kamu saja menganggut kerdil. Sejak itu, kakinya tidak ikatan lagi sampai ke bola. Bukan pernah sekalipun kamu hinggap ke lapangan maupun stadion. Ai, jikalau lain karena Riko merengek terus-menerus sehingga membuat istrinya sewot, takkan pernah ia menginjakkan kaki di stadion ini, pikirnya getir. Meskipun ia senggang, anak semata wayangnya sangatlah menyukai sepak bola. Suasana di depan stadion besar itu semakin tegang, semakin panas. Langit siang seakan ikut memerah. * Yogyakarta, 2015 *** Tentang Pengarang Thomas Sunlie Alexander lahir pada 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Sira menulis cerpen, syair, esai, suara miring sastra, ulasan seni rupa, dan gubahan sepakbola di berbagai kendaraan yang terbit di Indonesia, serta sama sekali mengerjakan parafrase. Pokok puisinya nan berjudul Sisik Ular babi Tataran diterbitkan secara terbatas maka dari itu Halaman Indonesia 2014. Daya cerpennya nan mutakadim berbunga merupakan Malam Buta Yin Gama Ki alat, 2009 dan Candik Taruna Dewa Dapur Ladang Pustaka & Sungai buatan Tua, 2012. Tentatif itu, novel karya Mo Yan, The Garlic Ballads Balada Bawang Putih yang diterjemahkannya akan segera diterbitkan. Cerpen “Kenangan Pada Sebuah Perlombaan” ini sendiri adalah cerpen yang sekali lagi mengingatkan kita, bahwa di balik sisi indah sepakbola, ada beberapa hal-hal getir dan ingatan nan menyesakkan nan selalu menolak bagi dilupakan. Sebagaimana halnya cerita Moacir Barbosa, sepakbola kadang boleh menjadi kutukan nan serupa itu bengis bagi beberapa pihak, menorehkan tarum hitam nan akan sulit untuk dilupakan, apalagi oleh waktu sekalipun. Cerpen ini pertama kali diterbitkan maka dari itu surat kabar Media Indonesia plong 5 Juli 2015. Sendang lukisan
CerpenTentang Sepak Bola. Tidak sedikit pemain profesional yang bermain di level amatir. Bermain bola ditengah malam cerpen karangan: Diplomasi Sepak Bola Menjalin Hubungan Antarbangsa dengan from lucu (humor) lolos moderasi pada: Lebih dari itu, sistem dalam sepak bola juga merefleksikan dalam dunia nyata tentang bagaimana sebuah lembaga, organisasi, bahkan sebuahSepak Bola dalam Sejumlah Cerpen Indonesia Erwin Setia Sebuah karya sastra tidak pernah muncul dari ruang hampa. Ia bisa datang dari imajinasi nan liar, perjalanan panjang sejarah suatu negeri, atau pengalaman pribadi seorang pengarang. Karya sastra mempengaruhi dan dipengaruhi oleh apa-apa yang ada di sekitarnya. Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, umpamanya, banyak bermunculan karya-karya sastra bertopik revolusi. Demikian pula karya-karya sastra pada zaman itu memberi pengaruh yang bersifat revolusioner—sedikit maupun banyak—terhadap orang-orang yang membacanya. Dengan kata lain sastra menangkap gambaran sosial di mana ia berasal. Di Indonesia masa kini banyak hal berubah. Topik yang populer bergulir seiring waktu. Di antara banyak hal yang populer dan diakrabi rakyat Indonesia masa kini adalah olahraga, wabilkhusus sepak bola. Tayangan sepak bola dan berbagai pernak-pernik terkait olahraga tersebut digemari banyak orang. Namun, di balik popularitas sepak bola di negeri ini, bagaimanakah peran pengarang karya sastra terhadapnya? Secara umum, tema olahraga tidak banyak muncul dalam karya-karya sastra Indonesia. Sebagai topik utama maupun sub-topik, olahraga sedikit sekali mendapat tempat. Memang ada beberapa novel yang menjadikan olahraga sebagai tulang punggung cerita sebut saja Badminton Freak karya Stephanie Zen [badminton], Lovasket karya Luna Torashyngu [bola basket], dan Jalan Lain ke Tulehu karya Zen RS [sepak bola], tapi jumlahnya masih jauh dari cukup mengingat betapa populernya sejumlah olahraga di Indonesia. Dalam hal karya sastra yang membahas sepak bola, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ini memunculkan banyak pertanyaan. Apakah sepak bola tak cukup seksi untuk dijadikan bahan karya sastra? Ataukah para pengarang Indonesia tak cukup cakap menjadikan sepak bola sebagai dasar pembuatan karya sastra? Tentu perlu penelitian lebih lanjut soal sedikitnya porsi sepak bola dalam karya-karya sastra Indonesia. Di sini saya hanya ingin mengulas sedikit perihal beberapa cerita pendek jenis karya sastra yang paling mudah dicerna bagi para pembaca—sebab tidak sepanjang novel dan serumit puisi yang mengangkat tema sepak bola. Cerpen-cerpen yang saya maksud adalah “Matinya Seorang Pemain Sepak Bola” 1981 karya Seno Gumira Ajidarma, “Kenangan pada Sebuah Pertandingan” 2015 karya Sunlie Thomas Alexander, dan “Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola” 2022 karya Aliurridha. Memang masih ada cerpen-cerpen lain yang mengangkat tema sepak bola, tapi saya membatasi pembahasan atas tiga cerpen di atas karena cerpen-cerpen itu cukup memberikan gambaran kepada kita bagaimana potret sepak bola dalam karya-karya sastra—khususnya cerpen—Indonesia. Sepak Bola yang Tragis, Sepak Bola yang Nostalgis Dalam ranah penulisan cerpen, Seno Gumira Ajidarma tidak hanya piawai menciptakan cerita-cerita soal senja atau cerita-cerita kritik sosial yang merupakan pengejawantahan dari kredo “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”. Ia juga pandai mereka cerita bertema olahraga yang jarang diperhatikan penulis lain. Dalam cerpen “Matinya Seorang Pemain Sepak Bola”, Seno menyinggung banyak hal. Cerita tentang seorang pesepak bola bernama Sobrat yang tiba-tiba meninggal sesaat setelah mencetak gol bukan hanya berisi biografi ringkas pesepak bola yang mulanya dianggap tak berbakat itu. Cerpen itu juga menyuarakan soal idealisme seorang atlet, kegigihan orang biasa untuk mencapai cita-citanya sebagai pesepak bola di kala orang-orang meremehkannya. Yang menarik Seno secara blak-blakan menyindir masalah pengaturan skor yang marak di persepakbolaan Indonesia sejak lama. Di salah satu bagian cerita Sobrat didatangi oleh seseorang yang berusaha menyuapnya untuk sengaja mengalah. Namun Sobrat menolak suap itu dengan halus. “Saya menjadi tidak berharga ketika menentukan harga,” katanya. Dan Sobrat adalah orang yang sama yang pernah mengatakan kepada ibunya tentang alasan ia ingin jadi pesepak bola, “Bermain bola kita tidak boleh berpikir soal uang, harus ada dedikasi, harus idealis, biar tidak dibayar kita sumbangkan tenaga untuk bangsa Indonesia. Bermain bola karena uang, itu namanya pelacuran sport, hanya akan mengundang penyuap. Pokoknya hidupku akan kuabadikan untuk sepak bola Indonesia.” Sayangnya, idealisme dan kecintaan Sobrat terhadap sepak bola tak dapat membuat dirinya berumur panjang, apalagi abadi. Ia mati di usia 30 tahun, saat dirinya sedang berada di masa jaya dengan menjadi penyerang produktif. Ketika dirinya meninggal di tengah lapangan di hadapan ribuan penonton pun kematiannya tidak menjadi sesuatu yang spesial. Seperti kata Seno di akhir cerpen, “Begitu saja jantung itu berhenti berdetak. Begitu biasa. Seperti sebuah berita kematian, yang menyedihkan bagi seseorang, tapi tak berarti sama sekali bagi yang lain.” Karier sepak bola Sobrat adalah cerita yang tragis. Kehidupan dan kematiannya tak banyak dipedulikan orang sebagaimana umumnya kehidupan dan kematian atlet di negeri ini. Sementara itu, Sunlie Thomas Alexander menyajikan potret lain seputar persepakbolaan Indonesia dalam cerpen “Kenangan pada Sebuah Pertandingan”. Cerpen ini menggunakan sudut pandang tokoh seorang mantan pemain bola tarkam antar-kampung yang terpaksa harus datang lagi ke lapangan sepak bola lantaran anaknya yang bernama Riko merengek minta diajak menonton pertandingan sepak bola. Ia sebetulnya tidak mau lagi berdekat-dekat dengan sepak bola setelah kejadian yang dialaminya bertahun-tahun lampau. Waktu itu, dalam sebuah pertandingan di lapangan yang jelek, ia membela kesebelasan kampungnya dalam duel sengit melawan kampung tetangga. Nahas baginya, di akhir pertandingan ia terpeleset sehingga bola yang seharusnya ia jauhkan dari gawang malah masuk ke gawang timnya sendiri. Tim kampungnya pun kalah dan ia menjadi bulan-bulanan massa. Sunlie menggambarkan suasana selepas gol bunuh diri itu sebagai berikut “Keributan pecah di luar lapangan. Sorak-sorai suporter lawan seketika teredam oleh teriakan-teriakan marah. Sebagian penonton bubar berhamburan. Polisi dan petugas keamanan sama sekali tak berdaya ketika dengan beringas para pemuda kampungnya merangsek ke arah suporter lawan. Sebagian menyerbu masuk ke dalam lapangan. Belum juga sempat ia beranjak bangkit, ia merasa bagian belakang kepalanya dihantam benda keras.” Sejak peristiwa itulah sang tokoh utama dalam cerpen tersebut berhenti bermain bola. Sepak bola yang ia cintai menjadi sepak bola yang menyisakan trauma. Efek trauma itu pun terbawa terus sampai tahun-tahun selanjutnya, sampai ia memiliki seorang anak yang ternyata menyukai sepak bola dan mengajaknya untuk menonton pertandingan sepak bola. Pada akhirnya yang traumatis dan yang nostalgis pun bersatu. Trauma dan nostalgia ia rasakan lantaran sepak bola. Dan mungkin banyak orang yang juga merasakan hal sama terhadap sepak bola. Sepak Bola yang Humoris, Sepak Bola yang Mistis Berbeda dengan dua cerpen di atas, cerpen “Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola” karangan Aliurridha ditulis dengan membawa semangat lain. Tidak ada sesuatu yang tragis atau melankolis dalam cerpen ini. Yang ada adalah humor melimpah dan olok-olok di sana-sini. Cerpen “Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola” diawali dengan cerita tokoh aku yang mendapat undangan bermain bola dari teman lamanya bernama Rahmat. Cerita-cerita ganjil dan penuh komedi pun dimulai dari situ. Ada cerita tentang orang-orang yang percaya pada peran orang pinter’ terhadap jalannya sebuah pertandingan, cerita tentang pemain bola alim yang terpaksa percaya klenik demi kemenangan timnya, dan cerita tentang perjudian yang lekat dengan sepak bola—bahkan sepak bola kelas kampung! Aliurridha menjelentrehkan dengan apik realita sosial dalam persepakbolaan Indonesia melalui cerpen itu. Dalam cerpen tersebut pertandingan sepak bola yang dimaksud memang sepak bola kelas kampung, tapi sesungguhnya berbagai perkara yang disinggung dalam cerpen itu lazim terjadi pula di ranah sepak bola profesional. Misalnya soal perjudian dalam sepak bola. Meskipun perkembangan sepak bola semakin maju seiring dengan kian mutakhirnya teknologi, perjudian tak pernah benar-benar hilang, malah kian subur dan variatif bentuknya. Di sisi lain hal-hal mistis pun belum sepenuhnya enyah dari persepakbolaan kita. Nahasnya, perjudian dan klenik bisa tetap hidup di Indonesia, kendati persepakbolaan di Indonesia sedang mati. *** Tiga cerpen karangan Seno Gumira Ajidarma, Sunlie Thomas Alexander, dan Aliurridha di atas hanyalah secuplik potret sepak bola dalam cerpen-cerpen Indonesia. Sepak bola dalam cerpen-cerpen tersebut bisa maujud dalam bentuk yang tragis, nostalgis, maupun humoris. Bisa mengundang tangisan maupun tawa. Tentu masih banyak sisi-sisi lain dari sepak bola yang dapat dialihkan ke dalam bentuk karya sastra. Ada banyak hal yang belum dikulik, ada banyak detail yang perlu diberi ruang. *
Akupun segera masuk ke rumah dan mengambil bola, ketika melihat jam ternyata menunjukkan pukul 22.00. Aku pun segera keluar karena mereka semua sudah tidak sabar untuk bermain bola. Kami langsung menuju jalan raya, terlihat jalanan pada malam sepi. Kami langsung membuat gawang dengan benda seadanya.Padabuku "Dongen Enteng ti Pasantren" karya Rahmatullah Affandi sering disingkat RAF, penulisnya mengisahkan pengalaman semasa di pesantren. Kisah tersebut ditulis dalam beberapa cerita, seperti antologi cerpen. Pada saat bulan puasa, di buku tersebut, selain mengaji sebagaimana umumnya di pesantren, ajengan menganjurkan untuk bermain sepak bola.
SOLO- Legiun asing yang ditunggu-tunggu publik bola Kota Bengawan akhirnya datang juga. Manajemen Persis Solo resmi mendapatkan servis dua pemain asing barunya, yakni gelandang Ryo Matsumura dan bomber Fernando Rodriguez. Dikenalkan via agenda Welcome-Welcome di akun Instagram resmi klub @persisofficial, tadi malam pukul 19.23.
Cerpen"Kenangan Pada Sebuah Pertandingan" ini sendiri merupakan cerpen yang kembali mengingatkan kita, bahwa di balik sisi indah sepakbola, ada beberapa hal-hal getir dan ingatan yang menyesakkan yang selalu menolak untuk dilupakan.
Cerpenpertama berjudul Esse Est Percipi karya Jorge Luis Borges tentang sepakbola sebagai simulasi canggih dan bagaimana fantasi membimbing kita jika menghadapi situasi ketika sepakbola sebenarnya sudah tidak ada lagi..