šŸ„ Air Mazi Najis Atau Tidak

Air mani dapat dikenali dengan sifatnya yang berwarna keruh manakala air mazi pula jerneh dan air mani itu sifatnya kasat manakala air mazi itu sifatnya licin. Berdasarkan sifat-sifat ini boleh dikenali adakah ia mani atau mazi. Jika mani maka wajib mandi hadas dan jika mazi maka wajib dibasuh dan berwuduk jika hendak solat.

Sementara orang yang tidak beriman hanya mengerjakan perintah Allah jika dia mengetahui sebabnya. Jika dia tidak tahu maka dia tak buat. 2. Bukan semua benda kotor dan jijik itu najis. Dalam Islam, najis atau tidak bukanlah ditentukan dari kejijikann atau kekotorannya, tetapi melalui dalil Al-Quran atau Hadis.

"Para ulama telah bersepakat bahwa hukumnya madzi adalah najis, tidak ada yang menyelisihinya kecuali sebagian (syi'ah) imamiyah, mereka berdalil bahwa hanya dengan menyiramkan air di atasnya tidak bisa menghilangkan najis, kalau hukumnya (madzi) itu najis maka diwajibkan mencucinya.
Ertinya: "Barangsiapa yang tidak berniat untuk puasa sebelum fajar, tiada puasa (wajib) baginya". (Riwayat Abu Daud, 3/108; Albani: Sohih). 10) Keluar air mazi. Air mazi adalah air yang keluar dari kemaluan lelaki atau perempuan kerana naik syahwat.
Keluarnya mani menyebabkan seseorang harus mandi besar / mandi junub. Hukum air mani adalah suci dan tidak najis ( berdasarkan pendapat yang terkuat). Apabila pakaian seseorang terkena air mani, maka disunnahkan untuk mencuci pakaian tersebut jika air maninya masih dalam keadaan basah. Terkadang pula seseorang tidak merasakan apa pun saat keluarnya madzi. Madzi dapat keluar dari kemaluan lelaki dan perempuan, tetapi kaum hawa lebih banyak mengeluarkan cairan ini. Para ulama menyepakati bahwa madzi hukumnya najis. Dan cara menyucikannya cukup membasuhnya dengan air apabila terkena anggota badan.
Perbedaan mani dan madzi bagi wanita dapat dilihat dari karakteristiknya. Keduanya memiliki ciri-ciri khusus yang telah dijelaskan dalam kitab fiqih karangan ulama terdahulu. Mengutip buku Kado Pernikahan karya Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi' (2005), madzi adalah cairan bening yang keluar dari kemaluan wanita saat ia mengalami rangsangan seksual.
Jika air terpisah darinya dan tidak berubah sifatnya(bau, warna atau rasa) dan ia tidak bertambah beratnya selepas menghilangkan najis dari tempatnya dan tempat itu menjadi suci, maka air itu kekal suci tetapi tidak menyucikan". Air mazi ini najis tapi bukan berhadas besar. Jadi bersihkan dulu kemaluan, kemudian baru berwuduk dan tunaikan
Pertama: Mazi adalah air kental yang biasa keluar ketika hawa nafsu memuncak, ia najis dan pembatal wudhu akan tetapi najisnya ringan, untuk membersihaknnya cukup dengan membasuh kemaluan dan menyiram baju dengan air. (Silahkan melihat soal jawab no. 2458 ). Kedua: shalat Shubuh, Zuhur dan Ashar anda sah insyaallah dan anda tidak harus
Air mutanajis adalah air yang terkena barang najis yang volumenya kurang dari dua qullah atau volumenya mencapai dua qullah atau lebih namun berubah salah satu sifatnya—warna, bau, atau rasa—karena terkena najis tersebut. Air sedikit apabila terkena najis maka secara otomatis air tersebut menjadi mutanajis meskipun tidak ada sifatnya yang Jawaban: Alhamdulillah was shalatu was salamu 'ala rasulillah, amma ba'du, Pendapat yang kuat tentang mani, statusnya sebagaimana air liur atau dahak. Tidak najis, namun tidak nyaman untuk dilihat (mustaqadzarah). Ini merupakan pendapat Imam asy-Syafii dan riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad. Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah: Sengaja dalam mengeluarkan air ini, berarti sebelumnya kita dengan sengaja membayangkan hal-hal yang mampu membangkitkan nafsu seksual kita, atau sedang dalam aktivitas yang meningkatkan nafsu seksual kita. Yang namanya manusia, sudah tentu tidak dapat lepas dari kebutuhan tersebut yang sudah menjadi dasar fitrah kita sebagai manusia. Dalam literatur-literatur fikih, cukup banyak keterangan-keterangan yang mengetengahkan bagaimana cara mensucikan suatu benda yang terkena najis. Salah satunya kita al-Bajuri. Sebagaimana kita ketahui, air adalah satu-satunya alat untuk menghilangkan najis. Tetapi ada yang harus diperhatikan, air yang digunakan harus suci dan mensucikan. Walau bagaimanapun ada juga yang berpendapat, cairan tersebut bukan najis dan tidak membatalkan wuduk. Contoh lain, setelah membasuh vagina daripada air mazi, darah haid atau lain-lain, ada air basuhan yang mengalir keluar. Dalam kes ini, memadai bagi wanita tersebut mengelap kering cairan tersebut tanpa perlu mengambil wuduk, mengulangi .